HARI kedua puasa,  ada kejutan dari pasar.  Harga daging sapi diberitakan naik setinggi langit. Benar-benar luar biasa. Belum pernah terjadi sebelumnya.  Harga daging di Pasar Besar Palangka Raya mencapai Rp160 ribu/kg.  Sedangkan di Pasar Kahayan di kota yang sama,  harganya lebih tinggi, mencapai Rp170 ribu/kg.

Harga yang sedikit moderat  terlihat di Pasar Mentaya Sampit. Di pasar ini, harga daging mencapai Rp140 ribu/kg.  Sedangkan di Pangkalan Bun,  masih berkisar Rp135 ribu/kg.

Para calon konsumen di Pasar Kahayan kaget tak ketulungan  ketika mendengar  harga mencapai sedemikian tinggi. Sampai-sampai calon pembeli dengan pedagang bersitegang. Calon pembeli mengatakan, “Kata Pak Jokowi harga daging hanya sekitar Rp80 ribu,” kata si calon pembeli.  Karuan saja,  si pedagang yang bernama Marni itu sewot.  “Ya sudah, beli daging sapi di Jokowi saja sana,” sergah Marni.  Dan, si calon pembeli pun ngeloyor pergi.

Perilaku pasar menjelang puasa/lebaran, memang selalu saja terjadi <>anomali. Yaitu keanehan-keanehan yang terjadi antarasuplai dan demand, yang berdampak pada fluktuasi harga. Dan, fluktuasi yang terjadi  kali ini  adalah melonjaknya harga di atas angka rasional.

Melonjaknya harga daging di atas angka rasional,  memang menimbulkan pertanyaan.  Mengapa harga naik?  Bagi pedagang ritail atau pengecer,  jawabannya mudah.  Yaitu naik karena  suplainya terbatas.

Benarkah suplai sapi ke Kota Palangka Raya terbatas?  Hal itu sangat mungkin terjadi.  Sebagai kota yang berada di pedalaman, tidak memiliki dermaga,  maka suplai sapi, dari luar pulau,  terhambat.  Lain halnya dengan Sampit dan Pangkalan Bun,  karena memiliki dermaga yang cukup memadai, maka suplai sapi dari Pulau Jawa, Madura, Sulawesi relatif lancar.

Pada pedagang daging di Kota Sampit mengaku, selama ini pasokan sapi selain berasal dari Jawa, berasal  dari  Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,  Bali, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.

Kenyataan ini menunjukkan,  stok  sapi lokal belum berperan dalam pasar. Peternakan rakyat maupun peternakan korporat belum ambil bagian dalam pasar daging domestik ini.

Harga terlalu tinggi, jelas merupakan indikasi bahwa pasar  dilanda sakit. Mekanisme pasar berlaku tidak wajar.  Tata niaga sangat tidak memenuhi prinsip-logika.  Untuk itu, bukan hanya butuh intervensi pasar. Bukan hanya butuh  pasar ‘penyeimbang’.  Melainkan butuh perombakan sistem pasar.  Yaitu sistem yang bisa memacu  stok domestik untuk berperan lebih besar.

Harga selangit,  bukan hanya konsumen, tetapi para pedagang ecerah juga menjerit.