BORNEONEWS, Kasongan - Para petani di Desa Mekar Tani, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan minta jaminan pasar kepada pemerintah setempat terkait pengembangan budidaya bawang merah. Dengan adanya jaminan pasar ini, petani tidak ragu lagi dalam membudidayakan komoditas tersebut.

"Pada umumnya tanah di desa kami sangat cocok sekali untuk budidaya tanaman bawang merah, sebab selain tanahnya subur wilayah kami juga tidak pernah kebanjiran," sebut Karno, seorang petani warga Desa Mekar Tani Kecamatan Mendawai, baru-baru ini.

Menurutnya, sejauh ini memang ada beberapa warga desanya yang membudidayakan bawang merah tersebut, namun jumlahnya terbatas, dan umumnya ditanam di lahan pekarangan. "Kita maunya sih tanam di lahan yang luas, paling tidak dua atau tiga hektare. Tapi kami para petani butuh jaminan pasar, soalnya kita tidak tahu dengan harga bawang ini ke depan."

Saat ini, aku bapak dua anak ini, harga bawang merah di pasaran memang cukup tinggi dibanding sebelumnya, termasuk di desanya. Hal itulah yang memicu keinginan sejumlah petani setempat membudidayakan tanaman bahan utama bumbu masakan ini.

"Kita beberapa waku lalu pernah coba menanam bawang merah di pekarangan, dan pertumbuhannya bagus serta umbinya cukup besar-besar meski tidak kita rawat sepenuhnya," katanya.

Karno mengaku sebelumnya ia bersama kelompok taninya sudah pernah melakukan rembug mengenai rencana bercocok bawang merah ini. Kesimpulannya, warga sepakat menanam dalam jumlah lahan luas jika memang ada jaminan pasar dari pemerinah daerah.

"Maksudnya pemerintah daerah bisa menampung atau membeli barangnya dengan harga yang sudah disepakati, misalnya Rp30 ribu per kilo, sehingga saat harga bawang merah anjlok kita tahunya ya harga tersebut, sama juga kalau harga di pasaran sedang tinggi misalnya mencapai Rp40 ribu per kilo, kita juga menjualnya tetap sesuai kesepakatan," katanya.

Hal senada juga diungkap Waluyo warga Mekar Tani lainnya. "Sebenarnya kami kalau sudah ada jalan tembus Mendawai-Kasongan tidak perlu lagi minta jaminan pasar kepada pemerintah, sebab selama ini kami juga kesulitan memasarkan hasil tani kami, seperti sayur dan buah-buahan karena jalan ke Kasongan belum ada," timpal Waluyo.(ABDUL GOFUR/N).