BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Perkebunan Kotawaringin Barat (Disbun Kobar) membuka peluang usaha bagi warga pesisir yang ingin membudidayakan kelapa dalam. Disbun kesulitan menjemput bantuan dari APBN untuk budidaya buah kelapa dalam karena keterbatasan lahan.
"Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar mendapatkan bantuan dari pusat untuk program budidaya kelapa dalam, yakni lahan harus ada 100 hektare," kata Kepala Disbun Kobar, Kamaludin, Rabu (8/6/2016).
Pemkab mengajak para petani atau masyarakat pesisir yang memiliki lahan cukup luas bergabung membentuk satu kelompok tani kelapa buah dalam. "Satu orang ada lahan dua hektare saja untuk budidaya kelapa dalam ini, satu kelompok tani saja hanya 50 orang. Itu sudah cukup untuk mendapatkan bantuan dari APBN," kata Kamaludin.
Ia menyebut, bantuan tersebut bisa berupa bibit, pupuk, herbisida dan pendukung lainnya. Lahan yang diikutkan dalam kelompok tani tetap milik masyarakat. Pemerintah hanya sebagai pembina dan pemberi bantuan. "Yang sudah kami canangkam ini di wilayah Sabuai, kalau terpenuhi lahannya itu bisa jadi konsentrasi blok penghasil tinggi bibit kelapa dalam di Provinsi Kalimantan Tengah," jelasnya.
Kebutuhan kelapa untuk sayuran dan bumbu masak atau kebutuhan rumah tangga di Kobar saat ini masih dipasok dari luar Kabupaten Kobar. Kamaludin berharap masyarakat bisa menciptakan peluang baru. "Kelapa ini kan bisa dijual hasilnya, dijual bibitnya, di pasar tentu harganya tinggi karena masih dipasok dari luar daerah."
Selain itu, buah kelapa muda juga ia akui bernilai jual tinggi di pasaran. Terlebih saat bulan Ramadan saat ini. Satu buah kelapa muda bisa dijual dengan harga Rp10 ribu.
"Dibuat sirup, dibikin es kelapa muda, kan banyak manfaatnya. Intinya bisa menciptakan peluang bisnis," kata Kamaludin. (CECEP HERDI/N).








