BORNEONEWS, Palangka Raya - Jendela Bambu Leuser juga menawarkan berbagai aktivitas menarik bagi para pengunjung. Tracking di hutan Leuser, menyusuri sungai, serta berinteraksi dengan flora dan fauna lokal adalah beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di sini.
Hal ini terkuak saat kegiatan pencanangan yang dilakukan oleh Akademisi USU bersama dengan Akademisi dari UiTM, Universiti Malaya, UPM Malaysia, serta Kyushu University Jepang dalam skema pengabdian kolaborasi internasional, bersama BPDAS Wampu Sei Ular, Pemerintahan Desa, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Labuhanbatu dan masyarakat di Dusun Pamah Semilir, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat pada Rabu, 26 Juni 2024.
"Namun, di balik ketenangan dan kedamaian wilayah pedalaman ini, tersembunyi sebuah tempat wisata yang menakjubkan, yakni Jendela Bambu Leuser Langkat Sumatera Utara," kata Ketua Prodi S2 S3 Prodi Pengelolaan SDA dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana atau PSL SPs Universitas Sumatera Utara atau USU, Profesor Rahmawaty dalam rilisnya kepada Borneonews pada Jumat, 28 Juni 2024.
Tim Pengabdian Kolaborasi Internasional ini menurut Prof Rahmawaty diajak untuk menjelajahi keindahan alam yang tersembunyi di Jendela Bambu Leuser, Pamah Simelir Langkat, Sumatera Utara.
Berlokasi tepat di atas Wisata Heaven, Jendela Bambu Leuser menawarkan pengalaman yang unik dan menyegarkan di tengah-tengah hutan bambu yang menakjubkan.
--page
"Selain sebagai destinasi wisata, Jendela Bambu Leuser juga memiliki peran penting dalam upaya konservasi lingkungan. Suasana asri, sejuk dan jauh dari hiruk pikuk dapat kita rasakan di bentang alam pegunungan ini," papar Prof Rahmawaty lagi.
Letaknya yang berada di 98’ 21” BT – 3’ 17” LU dan di ketinggian 900 – 1100 meter di atas permukaan laut (mdpl), katanya, membuat daerah ini begitu sejuk.
"Rapatnya rerimbunan rumpun bambu, menghalangi sinar matahari menembus permukaannya, meskipun tak secara menyeluruh. Kicauan burung-burung hutan terdengar merdu di sepanjang hari," tuturnya menggambarkan.
Kegiatan ini melibatkan banyak akademisi seperti Profesor R Hamdani Harahap dari Universitas Sumatera Utara, Dr T Alief Aththorick dari Universitas Sumatera Utara, Profesor Abdul Rauf dari Forum DAS Wampu, Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara, ditambah dan Purnama Ginting dari Komunitas Bambu Lestari Mendukung Pengelolaan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL.
Sementara dari luar negeri ada Assoc Profesor Takahiro Fujiwara dari Kyushu University Jepang, Prof Mohd Hasmadi Ismail dari University Putra Malaysia, Dr Peter Aning Atedong dari Universiti Malaya, Assoc Profesor Seca Gandaseca dari Universiti Teknologi Mara Malaysia, serta Dr M Fuad bin Abdullah dari Universiti Teknologi Mara Malaysia. (TESTI PRISCILLA/j)









