BORNEONEWS- sAMPIT:  adanya pendangkalan Sungai Mentaya dianggap tidak mempengaruhi adanya aktivitas pelayaran, terutama saat arus mudik lebaran nantinya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabahun (KSOP) Sampit Benny Noviandinudin, walaupun adanya pendangkalan di  sejumlah titik di Sungai Mentaya, namun tidak mempengaruhi sejumlah kapal yang  akan mElayani rute dari Pelabuhan Sampit menuju Surabaya dan Semarang dalam arus mudik lebaran.

“Saat ini kami memang bergantung pada pasang surutnya air sungai, namun semuanya juga dilengkapi alat PTS. Sehingga posisi kapal akan terdeteksi, sehingga apakah sudah memasuki muara sungai atau kandas dapat terpantau,” ujar Benny, Jumat (10/6/2016).

Sementara terkait dengan arus mudik lebaran 2016 ini, pihak KSOP sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan sejumlah lintas sektoral yang terlibat. Dalam rapat tersebut, mereka memprediksi arus mudik mulai meningkat pada H-15, atau sekitar tanggal (18/6/2016).

Sedangkan untuk angkutan kapal baik Pelni maupun DLU sudah memiliki jadwal masing-masing. Namun mereka saat ini juga sedang berupaya untuk meminta penambahan kapal. Paling tidak empat keberangkatan lagi.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, dan tentunya dapat mengangkut semua penumpang yang hendak lebaran di kampung halamannya.

Antisipasi seperti itu memang harus dilakukan, mengingat saat ini semua kapal penumpang ada batas maksimumnya. Seperti kapal dari Pelni, dimana kisaran penumpang hanya 800 orang hingga 1500 orang. Tergantung besar kecilnya kapal yang datang ke Pelabuhan Sampit.

“Ada pembatasan penumpang kapal, sehingga hal ini sangat berbeda seperti sebelumnya bahwa penumpang bisa bersesak-sesakan, saat ikut kapal,” ungkap Benny.

Dari prediksi arus mudik tahun ini dikatakan Benny ada penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 24.153 penumpang. Sehingga dia menginginkan semua penumpang akan terangkut seluruhnya. (MH)