BORNEONEWS, Sampit - Ada hal unik ketika memasuki area sebuah bangunan megah berarsitektur modern dengan ornamen telabang ciri khas Kalimantan yang berada di tengah kota Sampit. Sekelompok remaja meliuk-liuk bergerak mengikuti alunan musik tepat di teras bangunan tersebut. Mereka sedang berlatih menari, memanfaatkan teras yang penuh kaca di sebuah tempat wisata di tengah kota.
Bangunan tersebut bernama Museum Kayu Sampit yang terletak di persimpangan Jalan S Parman dengan Jalan Yos Sudarso, tepat di seberang Taman Kota Sampit. Museum kayu dibangun tahun 2003 dan diresmikan setahun setelahnya pada 6 Oktober 2004 oleh Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) pada masa itu Wahyudi K Anwar.

Museum kayu menyimpan sejarah hasil perkayuan yang pernah berjaya di Sampit. Di tempat tersebut tersimpan berbagai koleksi jenis kayu, mesin pengolahan kayu peninggalan masa lampau, dan berbagai peralatan dapur terbuat dari kayu yang saat ini sudah jarang ditemui.
Pengunjung dapat mengeksplor berbagai barang bersejarah tersebut yang tersimpan di dalam Museum Kayu mulai dari lantai pertama hingga lantai dua.
--page
Pengunjung akan disuguhi kapal besi tua di kiri halaman saat memasuki area Museum Kayu. Begitu memasuki lantai pertama Museum Kayu, nampak mesin besar setinggi rumah di tengah-tengahnya.
Mesin berwarna hijau tersebut bernama bansaw yang merupakan alat membelah kayu besar menjadi papan. Mesin buatan taiwan tersebut pernah digunakan oleh PT. Inhutani II Sampit tahun 1970.
Koleksi museum
Selain itu koleksi yang dimiliki lengkap dengan berbagai jenis kayu berkualitas yang sudah ada sejak dahulu. Mulai dari kayu ramin, dowel, meranti kuning, kemfa, kayu alau, ulin benuas, dan lainnya. Kayu-kayu itu terpajang di museum dalam bentuk gelondongan dan sampel potongan kayu yang siap ekspor.
Adapun 3 jenis kayu ditampilkan lengkap dengan daun, kulit bontos, dan kayu dalam sebuah bingkai yaitu kayu ulin, meranti merah, dan keruing.

Selain beragam kayu, berbagai macam koleksi lain seperti miniatur teluk Sampit, Hutan Sagonta, relief gambaran perjuangan masyarakat Mentaya Hilir Selatan dan foto-foto masa kejayaan kayu di Sampit tersusun rapi menjadi pajangan bernilai sejarah dan edukasi untuk pengunjung.
--page
Memasuki lantai dua Museum Kayu menyimpan kerangka tulang ikan paus biru (Balaenoptera musculus) yang ditemukan terdampar pada 23 September 2004 dengan panjang 25 meter. Kerangka mamalia laut terbesar tersebut sengaja dipajang untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi Museum.

Pengunjung akan menemui aneka peralatan dapur, penggilingan padi dan peralatan menangkap ikan terbuat dari kayu yang digunakan masyarakat pada masa lampau. Prototipe mobil Bupati Kotim tahun 1955-1956 juga terpajang rapi di lantai 2 museum.
Waktu berkunjung
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Bima Eka Wardhana mengatakan, Museum Kayu bukan sekedar masa lalu. Keberadaan museum kayu sebagai edukasi dan penghubung masa lalu untuk masa depan yang lebih baik.

Pihaknya membuka lebar Museum Kayu Sampit untuk masyarakat belajar sejarah kejayaan kayu pada masanya secara gratis. Adapun jam kunjungan museum kayu pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-12.00 WIB kemudian pukul 14.00-15.45 WIB.
Agenda tahunan
Disbudpar Kotim mendorong anak-anak sekolah khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk memanfaatkan sebaik-baiknya keberadaan Museum Kayu untuk pembelajaran. Bahkan berbagai event tahunan disiapkan pihaknya untuk mendongkrak antusias pelajar mengenal museum.

"Ada berbagai event tahunan yang kita selenggarakan yaitu Edukatif Kultural Museum, Kemah Budaya, dan Museum Kayu juga menjadi salah satu tempat perlombaan Festival Habaring Hurung. Kami juga bekerja sama dengan pihak lain untuk mengadakan bazar kuliner, tentunya dengan jadwal yang disesuaikan," kata Bima, Kamis, 11 Juli 2024.
--page
Adapun event tahunan tersebut akan dijadwalkan kondisional dan selalu diinformasikan kepada masyarakat luas melalui media pemberitaan dan sosial media Museum Kayu Sampit.
"Seperti dalam waktu dekat ini 16-20 Juli 2024 kita mengadakan event Edukatif Kultural Museum dengan berbagai macam lomba untuk mendekatkan masyarakat pada umumnya dan pelajar khususnya, kepada benda-benda koleksi," ujarnya.

Terkait sekelompok remaja yang sering berlatih menari setiap sore di Museum Kayu tersebut, pihaknya tidak melarang. Justru museum harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan ia senang jika museum ramai dikunjungi generasi muda agar dekat dengan sejarah daerah ini. (DEWI PATMALASARI/j)









