PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Walaupun dalam sepekan terakhir fenomena gangguan magnet akibat badai magnet sedang melanda bumi, namun dampaknya bisa dikatakan lemah.

Kepala BMKG Kelas III Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Nur Setiawan, Sabtu, 13 Juli 2024, menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat fenomena tersebut terjadi lantaran letak geografis Indonesia yang berada di ekuator atau garis khatulistiwa.

“Efek tidak langsung akibat fenomena tersebut berupa gangguan operasi satelit, komunikasi radio, dan jaringan transmisi tenaga listrik lebih berpotensi di wilayah atau negara-negara yang letaknya berada di wilayah selatan atau utara dari khatulistiwa antara sedang dan tinggi,” jelas Nur Setiawan.

Nur Setiawan kemudian menjelaskan terkait adanya fenomena badai magnetik tersebut.

“Fenomena ini terjadi akibat adanya ledakan di matahari disebabkan oleh aktivitas internal di matahari yang terjadi karena tingkat aktivitas matahari yang mengalami pasang surut selama siklus 11 tahunan. Para ahli atmosfer di seluruh dunia belum mengetahui secara pasti penyebabnya, tapi kemungkinan besar melibatkan gaya magnetik atau reaksi nuklir di dalam matahari,” jelas Nur Setiawan.

--page

Nur Setiawan menjelaskan, pengaruh aktivitas ledakan matahari terhadap bumi tergantung besar kekuatan ledakannya. Secara umum, dampaknya adalah terhadap kemagnetan bumi, yaitu berupa fenomena badai magnet bumi.

“Flare atau ledakan matahari adalah fenomena ketika terbukanya kumparan medan magnet yang berada di permukaan matahari yang dapat memancarkan energi sangat besar. Sehingga mempengaruhi lingkungan di sekitar bumi dan menimbulkan efek tidak langsung pada operasi satelit, komunikasi radio, dan jaringan transmisi tenaga listrik. Kami BMKG menyimpulkan bahwa dampak dari ledakan matahari berupa badai magnet bumi ini relatif aman untuk wilayah Indonesia yang berada pada lintang rendah atau khatulistiwa,” jelas Nur Setiawan.

Nur Setiawan menjelaskan hal ini karena perisai bumi dari pengaruh radiasi partikel angin matahari, yaitu magnetosfer bumi, titik terkuatnya berada pada lintang rendah. (WAHYU KRIDA/j)