PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kelompok Jawet Itah Bersama merupakan sebuah perkumpulan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Pulang Pisau. Kelompok beranggotakan 18 orang ini beraktivitas sebagai pengrajin anyaman rotan. 

Dari aktivitas kelompok yang berdiri sejak 2010 tersebut, berkat keuletan dan kegigihannya dari rajutan rotan mereka akhirnya bisa maraup pundi-pundi rupiah, membantu perekonomian keluarga.

Kelompok ini berada di Desa Gohong, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau. Di tengah gempuran zaman, sejauh ini kelompok kerajinan tersebut masih tetap eksis dan konsisten dengan karya-karya mereka.

Ketua Kelompok Jawet Itah Bersama, Wina (40) mengatakan, hasil kerajinan tangan membantu perekonomian anggota kelompok. Hasil dari produk yang dihasilkan bisa mendapatkan omset hingga Rp2 jutaan, di luar pendapatan yang didapatkan oleh anggota kelompok.

Biasanya, hasil kerajinan dipasarkan melalui berbagai macam cara. Apabila ada event mereka akan membuka stand. 

--page

"Kalau penghasilan ini tidak menentu, kalau hari - hari biasa, omset kami tidak besar Rp1 juta sampai Rp2 juta. Untuk anggota kelompok dalam satu minggu bisa menghasilkan Rp300 ribu– Rp400 ribu. Tapi kalau ada acara besar yang digelar dan kami buka stand, seperti di acara Pesparawi, satu minggu sampai Rp18 juta," kata Wina, Senin, 15 Juli 2024.

Wina, Ketua Kelompok Jawet Itah memproses anyaman rotan.

Produk yang dijual tidak hanya dari anggota kelompok mereka. Namun pihaknya juga sebagai pengepul hasil kerajinan tangan dari para pengrajin lainnya. Harga dari setiap produk bervariasi. Misalnya satu buah tas berbahan rotan mulai dari Rp100.000 sampai Rp 500.000. 

Sementara itu, lanjut Wina, tas rotan yang sudah dikombinasikan dengan kulit sintetis, harganya lebih mahal karena tingkat kesulitan pembuatannya masih manual karena belum memiliki alat atau mesin untuk menjahitnya, sementara untuk harga gelang, cincin yang berbahan rotan harganya mulai dari Rp30 ribu. 

--page

Menurut Wina, mahalnya kerajinan rotan karena bahan baku yang sudah mulai jarang didapat dan proses pembuatan sangat panjang, mulai dari mengolah rotan sampai bahan siap jual, sangat panjang, serta bahan baku yang sudah mulai langka, sehingga harus membeli ke daerah lain. 

Anyaman rotan
Anyaman rotan

Wina menjelaskan, proses pembuatan anyaman rotan, sampai jadi sebuah tas perlu ketelatenan, sebelum dianyam, harus membersihakn rotan dari duri, kemudian diruntih, dijangat, lalu di raut dan di warnai dengan pewarna alami, menggunakan lumpur dan daun tapanggang untuk warna hitam.

Setelah itu direbus dan dijemur, kemudian dianyam dan dibuat berbagai bentuk seperti tas, topi, tikar, lawung, gelang, cincin dan lain sebagainya.

Pemasaran

Untuk memasarkan produknya, selain penjualan di Kabupaten pulang Pisau, prodak anyaman rotannya juga sering dikirim ke daerah luar Pulang Pulang Seperti Provinsi Bali.

“Saat ini untuk pemasaran memang lebih banyak pembeli dari daerah kita, seperti dari Kapuas, Palangka Raya dan daerah lainnya, tapi juga kami kelompok sering mengirimkan barang ke Bali, karena ada orang Kalimatan yang berjualan di Bali dan membeli prodak dari kelompok kami untuk di jual lagi di sana," kata Wina.

--page

Warisan nenek moyang

Anyaman rotan adalah warisan nenek moyang orang Dayak, yang sudah mulai punah, dan tidak banyak lagi kaum muda yang mau belajar menganyam. 

Selain mendapatkan penghasilan dari menganyam untuk memenuhi kebutuhan ekonomi kelompok, Wina mengaku sangat bangga, bisa melestarikan anyaman rotan yang kini sudah dimodifikasi dan lebih modern sehingga banyak diminati oleh Pembeli. 

Sementara itu, terkait dengan kelompok, makna dari penamaan kelompok muncul dari mimpi perempuan penganyam rotan yang ingin mengembangkan anyaman, menjadi sebuah usaha yang bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluaga, sekaligus mempertahankan anyaman rotan dari modernisasi.

Rotan siap dianyam
Rotan siap dianyam

Kendala yang dihadapi kelompok saat ini lanjut Wina adalah bahan baku yang harus dibeli, karena sudah jarangnya rotan dan pemasaran yang belum maksimal. 

Wina juga berharap kelompoknya dapat dukungan dari pemerintah seperti, pelatihan menjahit untuk memodifikasi anyaman original menjadi moderen, dan berharap pemerintah bisa memberikan bantuan berupa mesin jahit serta membantu pemasaran supaya produk anyaman kelompok Jawet itah bersama bisa lebih di kenal lagi. (RETHA/j)