KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Maraknya kasus penyalahgunaan obat-obatan hingga buah kecubung, menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan, kasus tersebut juga diketahui sempat terjadi di Kabupaten Kapuas. Belasan warga dari tempat berbeda-beda sempat dirawat ke RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas pada tanggal 8 - 10 Juli 2024 lalu, diduga akibat penyalahgunaan obat-obatan, atau mengkonsumsi zat yang belum diketahui kandungannya.

Terkait itu, dr. Safira Amira Tjandrasari, Sp.KJ Sub.sp AR (K) selaku Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) Sub Spesialis Anak dan Remaja, dan juga sebagai Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Jiwa /Kepala UPF Jiwa di RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas menjelaskan dampak/ gangguan fisik dan gangguan mental yang bisa terjadi agar dipahami oleh masyarakat umum.

Kondisi yang diduga penggunaan kecubung ini, umumnya digabung dengan penggunaan obat-obatan lainnya yang disalahgunakan seperti zenit, seledril, somadril, obat-obat oplosan dan alkohol oplosan .

"Bila kondisi tersebut terjadi, maka gangguan fisik dan mental dapat semakin berat," kata dr. Safira Amira Tjandrasari, Sp.KJ Sub.sp AR (K) kepada wartawan Senin, 15 Juli 2024.

Ia menjelaskan gangguan fisik yang bisa terjadi ketika intoksikasi zat menyebabkan gangguan metabolisme secara umum yang dapat mempengaruhi fungsi organ organ vital tubuh seperti otak, jantung, paru, hati, dan ginjal.

--page


Gejala yang terjadi terjadi hipertensi yang mempunyai risiko terhadap gangguan jantung atau serangan stroke, kejang-kejang yang akan mempengaruhi otak.

"Dan masih banyak lagi gangguan-gangguan fisik yang bisa terjadi tergantung dari apa yg dikonsumsinya, lama penggunaan penyalahgunaan zat dan riwayat penderita sendiri," ujarnya.

Lalu, untuk gangguan mental juga sama dengan gangguan fisik, apabila pengguna yang di duga memakai kecubung dan campuran-campuran zat-zat lainnya dapat menyebabkan gangguan mental menjadi lebih berat.

Gejala yang terjadi seperti berbagai halusinasi dengan taraf yang berat (halusinasi lihat , dengar, raba, rasa, penciuman), tampak, bengong, tidak berespon,  terlihat seperti zombie, mematung berlama-lama.

"Kemudian perilaku aneh, hidup dalam dunianya sendiri, gelisah, mengamuk, emosional, marah-marah, bicara kacau, tidak sadarkan diri dan masih banyak lagi gejala mental lainnya yang bisa terjadi," ucapnya.

--page


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebenarnya pada umumnya mereka (pengguna) menyadari penyalahgunaan zat, namun mereka sulit untuk menghentikannya karena sudah terjadi perilaku adiktif atau kecanduan.

"Atau lingkungan sekitar membuat seseorang tidak bisa lepas terhadap masalah penyalahgunaan," tuturnya.

Selanjutnya, yang tidak menyadari, namun dampak penyalahgunaan jelas terlihat oleh orang lain atau keluarga, perlu tindaklanjut untuk konsultasi atau pengobatan jika diperlukan dan memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap dampak penyalahgunaan zat.

"Juga perlu dukungan dari keluarga untuk membantu anggota keluarga yang mengalami penyalahgunaan zat," pungkasnya. (DODI/Y)