BORNEONEWS-Sampit: Meski minyak tanah bersubsidi sudah disetop pendistribusiannya di wilayah Kota Sampit dan beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Kotawaringin Timur, namun masih banyak ditemukan dijual bebas di tingkat pengecer. Bahkan masih ada pangkalan di Sampit yang dapat jatah minyak bersubsidi tersebut.
“Kami tetap pakai minyak tanah untuk masak, tapi harganya mahal. Biasanya saya beli satu jeriken isi lima liter Rp50 ribu. Warnanya bening seperti dulu-dulu itu,” kata Salmah, warga Jalan Kenan Sandan Kecamatan Baamang Sampit, Minggu (12/6/2016).
Perbedaan warga minyak tanah industri dan subsisid adalah terlihat pada warnanya. Jika minyak tanah industri berwarna pink kemerah-merahan, sedangkan minyak tanah bersubsidi berwarna bening.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur, hanya ada dua kecamatan yang masih mendapat jatah distribusi minyak tanah bersubsidi, yakni Kecamatan Kotabesi dan Telawang. Selain dua kecamatan itu, adalah minyak industri.
Meski sudah ada pembatasan seperti itu, namun nyatanya di Sampit, minyak tanah bersubsidi masih beredar luas di masyarakat. Warga tidak mempermasalahkan minyak tanah bersubsidi ini beredar bebas, justru itu disambut gembira. Namun dengan harga yang sangat tinggi bahkan melebihi harga minyak tanah industri, itu yang menjadi tanda tanya masyarakat.
Untuk mengetahui minyak tanah itu industri atau bersubsidi sangatlah mudah. Terlihat dari warnanya. Sehingga warga tidak bisa dibohongi yang mana minyak bersubsidi dan industri. Warga menduga, banyak pangkalan di Sampit masih dapat jatah minyak bersubsidi dan menjual ke masyarakat dengan harga industri.
“Kalau memang hapus minyak ya hapus sekalian, toh kami membeli dengan harga Rp10 ribu per liternya,” kata Jali, warga lainnya.
Warga berharap pihak PT Pertamina dan aparat kepolisian menertibkan pangkalan-pangkalan yang diduga menjual minyak bersubsidi dengan harga industri.
Sebelumnya Head Operator Depo Pertamina Sampit, M Ikmal mengatakan, akan menindaklanjuti permasalah tersebut dan melaporkan langsung kepada Pertamina Palangka Raya. Namun kenyataannya masalah ini masih belum ditindaklanjuti, bahkan minyak tanah bersubsidi semakin banyak beredar di Sampit yang dijual dengan harga industri. (FI/*)








