BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa batubara dan minyak kelapa sawit masih menjadi komoditas utama ekspor di Kalteng.
"Komoditas utama ekspor Kalimantan Tengah selama Mei 2024 adalah batubara pada kelompok bahan bakar mineral, minyak kelapa sawit pada kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati, dan bijih zirconium, niobium dan tantalum pada kelompok bijih, kerak dan abu logam," kata Agnes pada Selasa, 16 Juli 2024.
Menurut Agnes, dibandingkan bulan sebelumnya, terjadi peningkatan dan penurunan nilai ekspor pada sejumlah kelompok komoditas.
"Penurunan terbesar terjadi pada kelompok bahan bakar mineral sebesar US$29,43 juta atau turun 10,18 persen," jelasnya.
Sebaliknya peningkatan terbesar terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati yakni sebesar US$8,07 juta atau naik 33,81 persen dan disusul oleh kelompok kayu dan barang dari kayu sebesar US$7,75 juta atau naik 176,14 persen.
"Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya atau year on year, sejumlah golongan barang mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup tinggi pada Mei 2024," terang Agnes lagi.
Penurunan nilai ekspor year on year terbesar, katanya, terjadi pada kelompok bahan bakar mineral senilai US$62,31 juta atau turun 19,36 persen, kemudian diikuti oleh kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati mengalami penurunan nilai ekspor terbesar, senilai US$7,93 juta yang mengalami penurunan sebesar 19,89 persen.
--page
"Meskipun begitu, beberapa kelompok golongan barang mengalami peningkatan dengan peningkatan yang terbesar tercatat pada kelompok kayu dan barang dari kayu sebesar US$1,18 juta atau naik 10,76 persen," bebernya,
Dilihat secara kumulatif, kata Agnes lagi, nilai ekspor pada Januari hingga Mei 2024 turun sebanyak US$624,10 juta atau turun 25,71 persen dibandingkan pada periode Januari-Mei 2023. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor sejumlah kelompok barang. Kelompok bahan bakar mineral mendominasi penurunan ini dengan penurunan senilai US$516,00 juta atau turun sebesar 26,00 persen.
"Penurunan nilai ekspor juga terlihat pada pada berbagai kelompok kategori kecuali pada kelompok ampas, sisa industri makanan, dan kelompok ikan dan udang. Kelompok ampas, sisa industri makanan mengalami peningkatan US$1,01 juta atau naik 12,02 persen dan kelompok ikan dan udang mengalami peningkatan US$0,02 atau naik 100,00 persen pada periode tahun ini," tuturnya.(TESTI PRISCILLA/R)









