PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengungkapkan keprihatinan atas meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam dua pekan terakhir di Palangka Raya.

Sebanyak empat kejadian Karhutla telah tercatat, dengan luasan lahan yang cukup variatif. Heri menjelaskan bahwa kebakaran tersebut diduga disebabkan oleh faktor kesengajaan dari oknum warga yang membuka lahan, meskipun cuaca yang terik juga menjadi faktor penunjang.

Keempat kejadian Karhutla terjadi di lokasi yang berbeda, seperti Jalan Tjilik Riwut kilometer 13 dan 14, Jalan G Obos 24, dan Jalan G Obos 27.

"Meskipun titik hotspot atau titik api belum terpantau karena kondisi cuaca masih belum masuk musim kemarau, saya menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga Kota Palangka Raya agar terhindar dari bencana kebakaran hutan dan lahan," katanya, Selasa, 16 Juli 2024.

Heri mengingatkan akan dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan, terutama mengacu pada bencana kabut asap yang pernah melanda Kota Palangka Raya pada tahun 2015 dan 2019.

--page

Untuk mencegah hal serupa terulang, perlu adanya patroli yang dilakukan oleh masing-masing kelurahan di kawasan-kawasan yang dinilai rawan terjadi Karhutla.

Data dari Pemetaan Risiko Berbasis Analisis DIni (PERISAI) BPBD Kota Palangka Raya menunjukkan sejumlah kelurahan mengalami kekeringan, seperti Kelurahan Mungku Baru, Petuk Barunai, Pager, Kanarakan, Sei Gohong, Banturung, Habaring Hurung, Langkai, dan Kereng Bangkirai.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya Karhutla. Kesadaran dan tindakan preventif dari setiap individu di Kota Palangka Raya diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta menjaga kelestarian lingkungan untuk kesejahteraan bersama," pungkasnya. (PATHUR/y)