BORNEONEWS, Palangka Raya - Pusat Daur Ulang Sampah (PDUS) di Jalan Wortel Palangka Raya merupakan inovasi teknologi yang mempuni dalam menjawab tantangan pengelolaan lingkungan hidup, terutama untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
PDUS Palangka Raya diresmikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong pada 29 Mei 2024.
Meski baru beroperasi satu bulan lebih, fasilitas ini sudah mampu memberikan sumbangsih yang positif dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah organik dan sampah anorganik.
Cara kerja
Proses daur ulang sampah terbilang cukup mudah, sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga maupun instansi dipilah oleh petugas untuk kemudian diolah menjadi barang yang bernilai ekonomis.
Sampah-sampah yang dibawa dari perumahan warga dimasukan ke dalam mesin pendaur ulang melalui proses peleburan. Sampah yang dapat didaur ulang meliputi kertas, plastik, logam, dan kaca.
Proses ini dilakukan oleh 10 orang petugas pengelolaan sampah terpadu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pahandut dan Sebangau.
Produk hasil daur ulang
Produk yang dihasilkan dari daur ulang terbagi menjadi dua jenis. Sampah organik dijadikan sebagai kompos dan pakan alternatif untuk budidaya magot maupun pakan untuk budidaya ikan hingga 30 kilogram dalam satu bulan.
Sementara untuk sampah anorganik dijadikan produk bernilai tinggi seperti pot bunga. Rencananya juga akan dijadikan paving, genteng dan bahan lainnya jika fasilitas sumberdayanya memenuhi.
Kapasitas
Fasilitas ini dirancang dengan kapasitas 10 ton per hari, namun karena keterbatasan jumlah pekerja, sementara ini hanya mampu menampung daur ulang sebanyak 1 ton per hari. Hal ini disampaikan Kepala UPT Pengelolaan Sampah Terpadu Pahandut dan Sebangau, Robi Sarwo Prasojo, Rabu, 17 Juli 2024.
"Besar harapan kami, sampah yang dibawa ke PDUS maupun Bank Sampah ini sudah terpilah dari rumah, sehingga lebih memudahkan petugas untuk melakukan proses daur ulangnya," katanya.

Dia mengatakan, hadirnya PDUS ini sudah cukup membantu dalam mengurangi masuknya sampah ke TPA, karena banyak dari masyarakat yang memilih untuk menjual sampah menjadi uang tunai maupun tabungan emas dengan kerja sama PT Pegadaian.
Harapan
Robi berharap fasilitas PDUS maupun jumlah tenaga kerjanya bisa ditambah agar bisa lebih optimal dalam mengelola sampah. Dengan begitu, produk yang dihasilkan bisa lebih banyak dan kapasitas daya tampungnya juga menjadi lebih optimal.
Antusias warga
Antusias warga cukup besar untuk memanfaatkan fasilitas PDUS ini. Erik, salah satu warga Jalan Wortel mengaku terbantu dengan adanya PDUS, karena ia tak perlu lagi membuang sampah ke TPS, namun bisa menjualnya ke Bank Sampah untuk didaur ulang.

"Tadi saya jual aluminium dengan harga Rp14 ribu per kilogram. Selain itu juga bisa dijual kalau ada sampah plastik, kertas atau kardus. Saya rasa ini cukup menguntungkan, karena dengan sampah saja kita bisa menghasilkan cuan," ungkapnya. (HENDRI/j)









