BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah berbulan-bulan lamanya tidak dapat berfungsi normal akibat sejumlah titik jalan tergenang banjir luapan air Sungai Lamandau, kini persoalan lain muncul. Yakni berupa portal pungutan liar (pungli) yang menjamur di sejumlah titik. Portal-portal pungli jasa titian kayu ini diduga dibuat, di titik-titik jalan yang sengaja dibuat rusak.
Seorang warga Kolam, Agus, menceritakan, dari hari ke hari jumlah portal pungli titian papan kayu lintasan kendaraan yang dibuat kelompok warga di jalan Pangkalan Bun-Kolam itu jumlahnya terus bertambah. Pada akhir pekan lalu, terhitung terdapat enam titik titian papan kayu yang sengaja dipasang warga. Tiap kendaraan mobil yang melintasi masing-masing portal itu diharuskan membayar pungutan sedikitnya Rp5 ribu, kepada warga yang berjaga. Sedangkan untuk sepeda motor, dipungut Rp2 ribu.
"Pekan sebelumnya ada lima. Tapi pas hari Jumat (10/6) saya ke Pangkalan Bun, ternyata sudah tambah satu lagi. Jadi ada enam portal sekarang. Jadi kalau naik mobil, sekali jalan harus siapkan ongkos tambahan Rp30 ribu. Soalnya sekali lewat, harus bayar Rp5 ribu. Kalau sehari pulang pergi lewat jalan itu pakai mobil pribadi, lumayan juga ongkosnya. Makanya yang lewat jalan itu kebanyakan naik motor. Cuma bayar Rp2 ribu," ujar Agus, Minggu (12/6/2016).
Sementara menurut warga lain, Dwi, titik-titik jalan yang dipasangi papan titian kayu itu, sebagian besar di antaranya diduga sengaja dirusak oleh para warga. Sebab, di beberapa kesempatan, warga yang berjaga di portal beberapa titik titian kayu di jalan itu terlihat atau diketahui sengaja mencangkuli badan jalan yang masih berupa tanah agar terlihat rusak. Bahkan para warga juga secara rutin berkali-kali mengguyur badan jalan dengan air yang cukup banyak hingga badan jalan terlihat menjadi becek dan berlumpur.
"Kalau yang di dekat pile slab (jalan layang) itu sepertinya jalannya memang benar-benar rusak. Titian kayunya panjang. Tapi kalau yang lain, yang kecil-kecil sepertinya sengaja dirusak. Kapan itu saya lihat jalannya dicangkuli dan disiram air sampai menggenang. Sebelumnya jalan itu tidak rusak. Tapi tiba-tiba jadi rusak dan dipasangi papan. Jalan yang lebar begitu sebagian ditutup, jadi kita mau tidak mau harus lewat papan-papan itu," ujar Dwi, Sabtu (11/6/2016).
Johny, pengendara mobil dari Pangkalan Bun punya pengalaman lain. Untuk titian pendek, dengan panjang lima meter, ia ditarik Rp5 ribu. "Tetapi di dua titian yang panjangnya sekitar 10 meter, saya dimintai Rp20 ribu. Gak bisa kurang. Waktu itu saya kasih Rp10 ribu, tetapi saya diteriaki dan dikejari untuk menggenapi Rp20 ribu," (RADEN ARYO/*)








