BORNEONEWS, Sampit - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengatakan penelusuran atau tracing kontak erat dapat mencegah meluasnya penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC).
"Saat ini Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri mengubah pola lain untuk penanggulangan TBC sehingga ke depan begitu kita dapat penderita TBC kita lakukan tracing seperti saat covid-19 kemarin," kata Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi, Kamis, 18 Juli 2024.
TBC merupakan penyakit menahun. Penyakit ini sangat sulit ditanggulangi dan diberantas karena disebabkan oleh bakteri yang dapat menular melalui kontak dengan penderita.
Ia berharap dengan penelusuran kontak erat penderita TBC dari keluarga, tetangga dan teman bisa mendiagnosis sedini mungkin penderita baru. Sehingga pihaknya akan cepat memberikan pengobatan agar TBC tidak menyebar lebih luas.
"Penyakit ini sudah memiliki cara pemeriksaan, diagnosa dan pengobatan yang jelas. Penderita harus menjalani pengobatang jangka panjang dan rutin minum obat selama 6 bulan hingga dinyatakan sembuh," ujarnya.
--page
Sementara itu, Bupati Kotim Halikinnor yang diwakili Staf Ahli Bupati Kotim Rusmiati menginstruksikan kepada semua Kepala perangkat daerah untuk berpartisipasi dalam skrining TBC. Pelaksanaannya bisa bekerja sama dengan dinas kesehatan atau langsung dengan puskesmas.
"Camat, kepala puskesmas, lurah dan kepala desa harus bekerja sama untuk melakukan penanggulangan TBC berbasis masyarakat dan melaporkan progresnya setiap 2 minggu, mengingat kementerian dalam negeri dan kementerian kesehatan melakukan monitoring penanggulangan TBC setiap minggu bersamaan dengan rapat pengendalian inflasi nasional," kata Rusmiati. (DEWI PATMALASARI/j)









