BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Walaupun zaman terus berjalan dan teknologi terus berkembang, namun tradisi turun temurun dari nenek moyang yang punya akan sejarah yaitu permainan rakyat Sepak Sawut sampai sekarang tak punah dari kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng).
Sepak Sawut merupakan permainan tradisional yang menggunakan bola sawut atau terbuat dari kelapa. Kemudian bola tersebut dibakar dengan api atau mudahnya sering disebut permainan sepak bola api.
Sepak Sawut adalah permainan rakyat yang mengbutuhkan kekompakan tim dengan menggabungkan keterampilan dan ketangkasan setiap anggota. Budaya kebersamaan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalteng.
Cara bermain
Sepak Sawut bisa dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan. Tiap permainan biasanya berlangsung selama 8-14 menit. Dimainkan secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri maksimal 8 orang.
Sebelum bermain, tiap anggota atau peserta harus mengoleskan tanah liat atau pasta gigi di bagian kakinya. "Kakinya dibalut dengan tanah liat dari rawa atau bisa juga pakai odol (pasta gigi)," ujar Kepala Kepala Bidang Pengembangan Pembudayaan Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Jupri, Kamis, 25 Juli 2024.
Tujuan pembalutan tanah liat atau pasta gigi agar menghindari panas supaya menghindari luka bakar saat bermain. "Sejauh ini belum pernah ada cidera yang sangat parah," imbuh Jupri.
--page

Sebelum bermain, kelapa harus direndam di dalam minyak tanah selama kurang lebih 1 sampai 2 jam. Tetapi jika ingin awet sampai permainan selesai maka didiamkan dalam perendaman selama 2 hari.
Selama permainan berlangsung, bola api tersebut bisa bertahan 3 sampai 4 menit. Biasanya di setiap satu permainan, bola bisa diganti sampai 10 kelapa bahkan lebih.

"Kalau sepak bola biasa kan bola dipompa sampai keras lalu disepak, kalau sepak sawut ini pakai kelapa yang dilapisi api kemudian disepak. Permainan ini harus dimainkan pada malam hari, itulah daya tariknya," katanya.
--page
Warisan leluhur
Melalui permainan tersebut, masyarakat Kalimantan Tengah menjaga identitas budaya yang merupakan warisan leluhur. Mereka telah mengajarkan arti kerjasama, nilai-nilai kebersamaan dan kekompakan kepada generasi penerus.
Sejauh ini, walaupun zaman terus berganti namun Sepak Sawut tetap lestari. Hanya saja Sepak Sawut khususnya di perkotaan biasanya hanya bisa disaksikan pada momen-momen tertentu saja.
Masuk agenda festival olahraga tradisional
Permainan tradisi suku Dayak Sepak Sawut seringkali menjadi bagian acara tradisional, festival olahraga, bahkan masuk dalam perayaan di desa-desa di Kalimantan Tengah.
Masyarakat dapat menyaksikan permainan tradisional Sepak Sawut tersebut di acara perayaan di desa maupun di acara festival yang digelar setiap tahun.
Seperti di Festival Marunting Batu Aji Tingkat Kabupaten Kobar maupun Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) Tingkat Provinsi Kalteng.

"Di Festival Isen Mulang di Palangka Raya kemarin penontonnya penuh luar biasa, dengan animo penonton yang begitu antusias, mereka menonton ingin mengetahui Sepak Sawut ini permainan yang seperti apa," tutur Jupri.
--page
Dengan diadakannya festival tersebut diharapkan dapat menjadi media perkenalan permainan tradisional suku Dayak di masa lampau. Ini menjadi tradisi budaya turun-menurun dan menjadi daya tarik unggulan Kalimantan Tengah kepada masyarakat baik lokal, nasional hingga ke mancanegara.
Dengan keunikannya, permainan tradisional Sepak Sawut sudah menjadi warisan budaya Kalimantan Tengah yang harus dikenal masyarakat luas. Marilah hargai dan lestarikan tradisi permainan tradisional rakyat ini sebagai bagian kekayaan budaya Indonesia. (NURITA/j)









