HAJATAN paling mengasyikkan menjelang lebaran adalah proyek jalan.  Bagi para pejabat di jajaran Dinas PU, baik provinsi maupun kabupaten,  proyek spektakuler  adalah proyek peningkatan jalan menjelang lebaran.

Momentum lebaran bisa menjadi alasan, mengapa sebuah proyek  bisa digelontor  anggaran dengan jumlah yang fantastis.  Sebagai contoh,  Dinas PU Provinsi Kalimantan Tengah  saat ini mengguyur    proyek yang disebut sebagai ‘Jalan Poros Selatan’. Kadis PU Provinsi Kalteng Leonard S Ampung menuturkan,  anggarannya dari APBN, sebesar  Rp800 miliar.

 Poros Selatan merupakan jalan Trans-Kalimantan yang menghubungkan  kota (daerah) Pangkalan Bun (Kotawaringin Barat), Sampit, Palangka Raya, Kapuas hingga masuk ke perbatasan  dengan Kalimantan Selatan.

 Ruas jalan yang panjangnya lebih dari 700 km itu penggarapannya akan digeber dalam dua hingga tiga pekan saja. Sebelum lebaran sudah  harus selesai!

Proyek menjelang lebaran, adalah proyek sepanjang massa. Artinya,  setiap menjelang lebaran, selalu ada proyek-proyek perbaikan jalan. Dan ini menjadi kelaziman di semua daerah.  Ambil contoh, ruas jalan Pantura (Pantai Utara Jawa) mulai dari  Bekasi, Indramayu, Cirebon (Jawa Barat) masuk ke Semarang,  Kudus, Pati, Yuwono (JawaTengah) dan seterusnya hingga Jawa Timur.   Pendek kata, ruas jalan Pantura, selalu ‘sibuk’ menjelang lebaran.

Seperti ada semacam  ‘ritual’ khusus bongkar-pasang atau tambal-sulam jalan menjelang lebaran.

 Yang menjadi pertanyaan kita,  seperti apa dan bagaimana Dinas PU meraih capaian itu. Bukan hanya capaian kuantitatif  dalam jumlah kilometer, tetapi yang terpenting adalah capaian kualitatif.  Kualitas jalan seperti apa yang dihasilkan  dari anggaran sebesar itu? Kualitas jalan seperti apa yang dihasilkan dari  menggeber rampungnya proyek itu?

Jujur saja, dan ini buktinya bisa kita lihat sendiri. Jalan yang dihasilkan biasanya berkualitas buruk.  Hanya bertahan mulus beberapa bulan saja. Setelah itu, jalan bergelombang, atau malah sudah berlobang dan berantakan.

Mengapa? Sudah jamak.  Sibuk kejar target, lupa pengawasan.  Dan kita juga tidak menampik. Proyek lebaran,  bisa jadi ramai-ramai untuk bancakan!