SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar. Hal ini terus tertanam pada sosok pemuda perantau di Bumi Habaring Hurung yang kini jejak langkahnya bisa ditemui di Jalan Kopi Selatan, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Sekumpulan orang mengerumuni sebuah outlet kecil bernuansa Jawa dengan motif batik parang membingkai nama gerai itu. Mereka tengah mengantre demi segelas es dawet menyegarkan khas daerah yang telah dikemas sedemikian rupa dengan inovasi kekinian.

Outlet tersebut bernama 'Es Dawet Ayu Wong Mbanjar'. Sebagian pelanggan sering salah persepsi mengenai nama 'Mbanjar' yang tersemat pada usaha milik pemuda asli Jawa Tengah itu.

"Kalau kita menyebut Mbanjar, seringkali masyarakat mengartikan Banjarmasin tetapi bukan itu. Mbanjar itu daerah asal es dawet dari tanah kelahiran saya Banjarnegara, Jawa Tengah," kata Pemilik Usaha Es Dawet Ayu Wong Mbanjar, Pujiono, Senin, 29 Juli 2024.

Pemilik Usaha Es Dawet Ayu Wong Mbanjar Pujiono (kiri)
Pemilik Usaha Es Dawet Ayu Wong Mbanjar Pujiono (kiri)

Saat ditemui borneonews.co.id ia tengah sibuk meracik es batu, cendol, gula, dan santan dalam gelas cup yang telah tersemat logo usahanya sembari membagikan kisah inspiratifnya membangun usaha hingga nekat berhenti dari sebuah perusahaan.

--page

Kuliner khas daerah

Pujiono mengatakan, usaha ini bukan sekedar berjualan melainkan juga upaya memperkenalkan produk kuliner khas daerah Banjarnegara kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Ia merintis usahanya sejak tahun 2019 dengan berjualan dari kebun ke kebun sawit yang terkenal sangat banyak di Kotawaringin Timur. Perjalanan jauh hingga jalan rusak pernah ia tempuh untuk menjajakan Es Dawet Ayu Wong Mbanjar di wilayah perkebunan.

"Saat orang-orang sawit gajian saya datang ke kebun-kebun itu karena di sana pasar potensial dan pasti laku. Pengalaman itu sangat membekas dan memberi pelajaran. Bahkan kendaraan saya pernah mogok di tengah perjalanan malam, alhamdulillah ada orang baik yang menolong saya," ujarnya saat mengisahkan pengalaman merintis usahanya.

Outlet Es Dawet Ayu Wong Mbanjar di Jalan Kopi Selatan, Sampit.
Outlet Es Dawet Ayu Wong Mbanjar di Jalan Kopi Selatan, Sampit.

Ia mengaku pernah menjajakan dagangannya di sejumlah titik di Sampit. Namun hasilnya tak sebanyak saat mendekatkan Es Dawet Ayu Wong Mbanjar kepada masyarakat pekerja perusahaan sawit.

--page

Covid-19 mengubah pola usaha ke digitalitasi

Tantangan terbesar menghadang usahanya pada tahun 2020. Saat itu tak dipungkiri pandemi covid-19 berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan termasuk dunia usaha. Apalagi dirinya baru memulai memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Saat itu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) gencar dilakukan oleh Pemerintah sehingga ia pun tak dapat lagi menjajakan dagangannya ke kebun-kebun sawit. Dirinya pun sulit menemukan kerumunan warga di tengah teror covid-19 waktu itu.

Namun ia tak menyerah, Pujiono tak menyia-nyiakan momen digitalisasi yang semakin merebak kala itu. Dirinya tak bosan memperkenalkan produknya melalui platform Facebook, Instagram, dan Whatsapp.

"Jika ada yang pesan kita antar ke rumah pelanggan. Saat itu karena himpitan ekonomi saya selingi dengan kerja sampingan," imbuhnya. 

Es Dawet Ayu Wong Mbanjar
Es Dawet Ayu Wong Mbanjar

Seiring berjalannya waktu, ia memilih bekerja di perusahaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun dalam hati kecilnya nama Dawet Ayu Wong Mbanjar masih bergejolak untuk terus dihidupkan.

"Dari pekerjaan itu saya tetap menyisihkan investasi membeli peralatannya yang saya beli dari Banjarnegara, seperti gerobak anyaman ini saya tidak pernah hilangkan khasnya dari daerah asal," katanya.

Seiring berjalannya waktu, dirinya kembali menekuni menjajakan Es Dawet Ayu Wong Mbanjar dari acara ke acara seperti pernikahan, khitanan, tasmiyah, aqiqah dan lain-lain di sela-sela pekerjaan utamanya.

--page

Resign dari perusahaan

Ada sebuah titik perenungan di mana ia memutuskan kembali fokus menekuni usahanya dan memilih berhenti bekerja dari perusahaan. Saat itu dirinya bekerja hari Senin hingga Sabtu, yang menyebabkan pesanan acara di waktu kerja efektif tidak dapat ia jalankan.

"Saat bekerja di perusahaan kalau dibilang cukup ya cukup secara ekonomi. Tetapi motivasi saya harus keluar dari zona nyaman. Sebenarnya semua pekerjaan itu enak asal ditekuni dan cocok. Saya kerja di perusahaan cocok saja, tapi keinginan mengembangkan usaha sendiri jauh lebih besar," ujarnya. 

Es Dawet Ayu Wong Mbanjar
Es Dawet Ayu Wong Mbanjar

Motivasinya berhenti dari pekerjaan tetapnya itu semakin besar ketika menatap investasi peralatan es dawet yang terpajang di rumahnya. Hal itu diperkuat dukungan keluarga serta doa orang tua membuat tekadnya kembali bulat menekuni dunia usaha.

Dirinya fokus melayani pesanan acara dan mulai membuka outlet offline di Jalan Kopi Selatan yang buka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Outlet tersebut masih terbilang baru kurang lebih 2 bulan. Tetapi perjalanan berdirinya gerai kecil yang sukses menjual minimal 60 cup per hari tersebut telah ditempuh 5 tahun.

Terus berinovasi

Tidak sekedar es dawet, kini ia menjajakan minuman khas Banjarnegara dengan inovasi berbagai toping yang digemari masyarakat. Terdapat 4 varian toping yang tersedia pada menu Es Dawet Ayu Wong Mbanjar yaitu dawet ayu nangka dibanderol harga Rp15 ribu/cup, dawet ayu original harga Rp10 ribu/cup, dawet ayu tape Rp12 ribu/ cup, dan dawet ayu durian Rp20 ribu/ cup.

Dirinya juga melayani pesanan paket untuk acara pernikahan, khitanan, tasmiyah, aqiqah dan lainnya dengan nomor layanan 0852-9111-7128. Paket acara tersebut ditawarkan Rp1,5 juta/paket mendapatkan 500 cup es dawet ukuran sedang. Bukan sekedar datang produknya saat acara, ia akan memboyong gerobak khas Dawet Ayu Wong Mbanjar itu untuk menambah daya tarik saat acara.

Pujiono sangat menjaga kualitas es dawet yang ia besarkan dengan lika-liku perjalanan selama 5 tahun itu. Ia tidak ingin pelanggan kabur akibat perubahan rasa atau kualitas. Sehingga dirinya mendatangkan gula kelapa langsung dari Banjarnegara. Santan pun pilihan dari Sampit yang fresh dan tidak pernah berubah supplier. 

--page

Sementara cendol ciri khas es dawet tersebut ia racik sendiri dengan penuh ketelatenan. Ia terus mempertahankan aroma pandan dan warna hijau dengan tekstur cendol lembut lumer saat di mulut.

"Saya pernah sulit mendapat pandan. Lalu berjalan di suatu tempat, ternyata pandan milik warga itu dibuang-buang karena lebat. Sehingga saya beli itu banyak sekali meskipun itu dibuang. Bahkan ketika melihat ada lahan kosong milik warga, saya memberi bibit pandan agar nanti bisa saya beli. Harga pandan satu ikatnya Rp30 ribu," terangnya.

Es Dawet Ayu Wong Mbanjar
Es Dawet Ayu Wong Mbanjar

Ingin membuka lapangan kerja

Impian besar pemuda dengan gejolak membangun usaha itu tak berhenti di sini. Ia berencana mengembangkan lebih banyak outletnya agar lebih banyak dijangkau masyarakat dan produk daerahnya terus dikenal. Inovasi juga akan terus ia kembangkan namun harus melalui serangkaian uji coba agar pelanggan tidak kecewa terhadap produknya. 

Tekadnya tidak hanya untuk kepentingan ekonomi dirinya sendiri. Ia ingin suatu saat membuka lapangan kerja lebih luas. Bahkan saat ini rasa syukur terus ia panjatkan karena dapat memperkerjakan 4 orang membantu produksi setiap hari.

"Keinginan menambah outlet itu ada, tapi saat ini belum sebab tenaga kami terbatas. Kalau kita bercerita merintis, dahulu waktu istirahat saya sangat minim karena waktu habis untuk produksi sendiri. Sekarang alhamdulillah sudah ada yang membantu," tandasnya.

Karyawan Es Dawet Ayu Wong Mbanjar melayani pembeli.
Karyawan Es Dawet Ayu Wong Mbanjar melayani pembeli.

Sekelumit penutup kisah inspirasi dari pemilik Dawet Ayu Wong Mbanjar tersebut, ia sempat menyinggung kata-kata bijak dari Bob Sadino "Bisnis apa yang paling bagus? Bisnis yang dimulai dan dibuka, bukan yang ditanyakan terus". Kata-kata itu salah satu penyemangat saat keputusan berhenti dari perusahaan kian bulat. (DEWI PATMALASARI/j)