BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Ar-Raudhah Pangkalan Bun, Kamaludin kecewa dengan keputusan Habib Muhammad Sulaiman yang membuat pesantren baru.

Habib Muhammad Sulaiman adalah pengasuh ratusan santri yang ada di ponpes tersebut. Selain kecewa, Kamaludin juga menyayangkan sikap Habib Muhammad Ismail yang mengubah nama ponpes dari Ar-Raudhah menjadi Dar Alraudhah. Selain itu juga, Habib Muhammad Ismail tidak pernah transparan dalam proses administrasi di yayasan.

"Saya sebagai ketua yayasan sangat menyayangkan, kenapa nama ponpes dirubah tanpa kordinasi. Kemudian dalam hal administrasi, dia (Habib) tidak pernah menyerahkan laporan. Tidak transparan," keluh Kamaludin yang juga selaku Kepala Dinas Perkebunan Kotawaringin Barat, di ruang kerjanya, Selasa (14/6/2016).

Padahal, nama ponpes tersebut dibangun sebelum Habib itu datang. Ponpes dibangun pada 1998.

Kamaludin menyatakan, selama ponpoes diasuh oleh Habis Muhammad Ismail, ponpes tidak dilakukan pendaftaran ulang ke Kemenag. Hingga Kemenag empat kali melayangkan surat  peringatan akan dilikudasi. Kamaludin mengaku, setelah Habib melakukan pendaftaran ulang ke Kemenag, rupanya Yayasan yang didaftarkannya bukan yayasan Ar-Raudhah dan nama ponpesnya pun sudah diubahnya.

"Yayasan tidak pernah setuju Ponpes diganti nama, Habib memang datang ke sini karena permintaan yayasan enam tahun lalu, tapi kan yayasan juga punya aturan tidak bisa seenaknya. Harus transparan, santri banyak," terang Kamaludin

Diketahui, ponpes tersebut memiliki 400 santri putra dan putri. Di dalamnya terdapat sekolah SMP dan SMK. Namun, setelah konfik intern antara pihak yayasan dan pengasuh mencuat. 

Akhirnya, Habib Muhammad Ismail selaku pimpinan pengasuh ponpes tersebut meninggalkan Ponpes Ar-Raudhah dan membuat ponpes baru dengan yayasan yang dimilikinya di wilayah desa Bungur, Sungai Tatas kelurahan Baru Pangkalan Bun (3 kilometer dari bundaran tudung saji/bundaran sampah).

Habib Muhammad Sulaiman sendiri merasa ketidakharmonisan antara dirinya dengan pihak yayasan sudah tercium sejak lama. Karena ia merasa tak kuat dan resah berada di Ponpes Ar-Raudhah di bawah Yayasan Ar-Raudhah, akhirnya ia memisahkan dan membuat ponpes baru. Kepindahannya kemudian diikuti oleh seluruh santri di ponpes tersebut.

"Mereka memang curiga kepada kami, intinya curiga kepada kami kenapa ini bisa berjalan dianggapnya ada donatur besar untuk membiayai ratusan santri ini," kata Habib Muhammad Ismail di kantor sekretarit Dar Alraudhah dibawah yayasan miliknya Darunn Nur  di jalan HM Rafii, Pangkalan Bun.

Pria yang biasa dipanggil Habib itu mengaku saat ini 400 santri mengikuti dirinya usai ia memutuskan untuk keluar dari yayasan Ar-Raudhah.

Dalam waktu dekat, ratusan santri akan ditempatkan sementara di gedung Transito jalan Malijo Pangkalan Bun. Ia mengklaim, gedung milik pemkab Kobar dibawah dinas Transmigrasi itu sudah mendapat izin penggunaan dari Bupati langsung.

"Saya sedang membangun ponpes baru, insyalloh akhir tahun ini selesai. Untuk sementara, ratusan santri saya tempatkan di gedung Transito, saya sudah izin ke dinas dan Bupati. Bupati menyambut baik dan memfasilitasi kami," aku Habib.

Habib menampik pernyataan Kamaludin jika bangunan Transito yang akan digunakan sementara untuk kegiatan ponpes tidak berizin.

"Sekarang yayasan minta transparan, apa yang harus dilaporkan. Untuk makan ratusan santri saya cari sendiri kekurangannya. Hanya ada subsidi listrik dari yayasan," terang Habib

lebih lanjut ia mengatakan, 20 persen dari 400 santri yang ia asuh merupakan anak yatim dan tidak mampu. Ia harus mengeluarkan biaya tambahan dari kantong pribadinya untuk memberi makan ratusan santrinya. 

"Satu santri tiap bulan dikenakan hiaya untuk makan dan operasional sebesar Rp450 ribu, Rp300 ribu untuk makan dan Rp150 ribu untuk kebutuhan operasional dalam sebulan. Yayasan nggak ngasih subsidi,"

Pantauan Borneonews, Ponpes Ar-Raudhah dibawah Yayasan Ar-Raudhah Pangkalan Bun kini sudah tak memiliki santri. Seluruh santri yang terdaftar di yayasan tersebut mengikuti jejak sang pengasuh di ponpesnya yang baru yakni Dar Al-Raudhah dibawah naungan yayasan Darunn Nur milik sang Habib. (CECEP HERDI/m)