BORNEONEWS, Palangka Raya – Jika sudah menjadi hobi minimnya lahan tidak menjadi halangan untuk terus bertani, berkarya dan berproduksi. Lingkungan rumah bisa disulap menjadi kawasan produktif dan menghasilkan.
Salah satunya seperti Eko Andik Pribadi. Di tengah padatnya aktivitas sebagai pengacara, ia menemukan cara unik untuk menyalurkan hobinya.
Bapak satu anak ini tinggal di sudut pinggiran kota, bersama keluarga kecilnya. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari pusat Kota Palangka Raya.
Asri. Mungkin itu yang awal terpikir saat melihat rumahnya. Rumah beton standar dengan dapur berdinding seng. Samping kanan rumah ada pepohonan, samping kiri ada kebun cabai.

--page
Tidak luas, lahan pertaniannya hanya dua petak, di pinggir kiri rumah. Dibalut dengan dinding jaring, menjaga tanaman dari serangan ayam dan hama lain. Atap striming dibagian atas, mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk.
Masuk akal memang, karena Kalteng terkenal dengan cuacanya yang panas. Jika dibiarkan dapat mengganggu pertumbuhan cabai.
Hobi bertani dari kecil
Masih pagi sekali, Andik nampak asyik membersihkan gulma di bagian bawah kebun kesayangannya. Dia mengatakan semua berawal dari kecintaannya pada pertanian sejak kecil.
Lahir dari keluarga petani, tidak asing dengan tanaman apalagi sayur mayur. Tanaman cabai dipilih karena kemudahan dalam pemeliharaan. Selain itu, modal terjangkau dan harga jual tinggi.
“Cukup mudah dan bisa ditinggal-tinggal,” ungkap Andik sembari duduk santai di kebunnya.
--page

Cabai yang dipilih adalah varietas Ori 212, cabai jenis ini dikenal tahan terhadap berbagai penyakit tanaman. Andik menggunakan campuran tanah, sekam, dan pupuk kompos. Media tanam ini menjadi praktik ramah lingkungan.
Bahan organik seperti membantu mengurangi limbah rumah tangga dan meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Tanaman cabai disusun rapi dengan polybag. Ditambah tali pengaman agar tanaman tumbuh lurus ke atas. Pupuk NPK digunakan untuk membantu pertumbuhannya.
Pemeliharaan lanjutan dilakukan dengan penyemprotan fungisida dan insektisida yang dirotasi secara berkala untuk memastikan tanaman tetap sehat dan bebas dari serangan hama.
Sejak memulai penanaman cabai pada tahun 2021, Andik telah mengalami berbagai tantangan, terutama yang berkaitan dengan hama dan penyakit tanaman.
--page
“Kendala yang sering dihadapi adalah hama dan bercak daun. Namun, dengan penggunaan auto mectin dan pemeliharaan yang disiplin, masalah ini bisa diatasi,” jelas Andik.
Dia menambahkan bahwa perawatan rutin adalah kunci untuk menjaga tanaman tetap produktif dan sehat. Baik itu melalui pemberian pupuk maupun penyemprotan berkala.

Selain bermanfaat ekonomi juga lingkungan
Dalam pekarangan rumahnya, Andik menanam sekitar 200 polybag cabai. Hanya butuh sekitar 4 bulan dari penyemaian sampai bisa dipanen. Setiap minggunya, kebun ini mampu menghasilkan hingga 15 kilogram cabai.
Produktivitas setiap tanaman berkisar antara 8 ons hingga 1 kilogram. Dengan harga cabai mencapai Rp80 ribu per kilogram, hasil panen ini memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi keluarganya.
"Ketahanan pangan di keluarga lumayan terbantu, sekaligus membantu kebutuhan dapur sehari-hari," ujar Andik.
--page
Namun, manfaat dari kebun cabai Andik tidak hanya terbatas pada ekonomi keluarga. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk bertani, berkontribusi pada upaya penghijauan lingkungan sekitar.

Tanaman cabai yang tumbuh subur membantu mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas oksigen di sekitarnya.
“Saya berharap apa yang saya lakukan ini bisa menginspirasi orang lain yang memiliki halaman luas untuk memanfaatkannya. Di pekarangan pun kita bisa bertani,” kata Andik . (APRIANDO/j)









