PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2024.

Untuk itu agar Pos Lapangan, Posko Satgas Pengendalian Karhutla BPBD Kabupaten/Kota tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian-kejadian Karhutla. 

"Saat ini sedang dilaksanakan giat sosialisasi dan edukasi secara humanis, giatkan patroli ke daerah-daerah rawan terjadinya Karhutla dan lakukan pemadaman dini," katanya, Rabu, 31 Juli 2024.

Dampak puncak musim kemarau terjadinya penurunan ketersediaan air bersih karena sumber air seperti sungai dan sumur mengering. 

Dampak signifikan pada pertanian karena tanaman kekurangan air, yang dapat mengakibatkan gagal panen. "Kebakaran hutan dan lahan terutama di daerah yang kering dan bervegetasi lebat," ujarnya.

Kesehatan masyarakat peningkatan penyakit akibat debu dan polusi udara, seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Serta risiko dehidrasi dan heatstroke lebih tinggi akibat suhu yang meningkat.

"Gangguan ekosistem seperti pengurangan habitat bagi satwa liar dan penurunan kualitas air di ekosistem perairan," jelasnya.

--page

Puncak kemarau Agustus 2024 sedang dilakukan pencegahan karhutla dengan cara melakukan patroli di area hutan untuk mendeteksi dan mencegah karhutla.

"Kami juga memberikan informasi tentang bahaya kebakaran hutan dan cara pencegahannya," tandasnya. (MARINI/R)