BORNEONEWS, Kasongan - PT Katingan Mandiri Persada (KMP) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan dua perusahaan. MoU diberlakukan dengan CV. Amino Alam Lestari (AAL) dan PT Tambora Makmur Persada (TMP), di Kasongan, Kabupaten Katingan, Rabu (15/6/2016).
Direktur PT. KMP Maspek J Garang pada kesempatan itu mengatakan, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan investor dari CV Amino Alam Lestari yang bergerak di bidang Pupuk dan Jagung dan PT Tambora Makmur Persada investor yang akan membangun Pabrik Pengolahan Singkong menjadi tepung terigu.
"Saya berharap PT. KMP ke depan bisa lebih maju lagi," ujar Maspek.
Maspek berharap, dengan dilakukan MoU ini, ke depan masyarakat memiliki perkerjaan dan bisa lebih sejahtera, kemudian pihak perusahaan juga dapat lebih maju dan berkembang. "Dengan kita menggandeng pihak investor dari luar ini harapannya masyarakat lebih sejahtera dan perusahan lebih maju dan berkembang."
Selain itu, tambah Maspek, untuk menjamin keseriusan pihak perusahaan, inventor melakukan gerak cepat, salah satunya dengan MoU serta persiapan lahan pembangunan pabrik.
Pada kesempatan yang sama, Dirut CV. Amino Alam Lestari Yuswohadi mengatakan, dengan adanya MoU ini pihaknya akan membimbing masyarakat dengan melakukan pembinaan untuk melakukan tanam singkong dan jagung. "Kita akan bekerjasama dengan kelompok tani, koperasi guna menyuplai Singkong dan Jagung ke pabrik yang didirikan di Tumbang Samba."
Untuk bibit atau stek singkong didatangkan dari luar Pulau Kalimantan dari Pulau Jawa. Sedangkan mengenai harganya, menjadi kewenangan pihak PT.KMP nantinya apakah digratiskan kepada masyarakat atau beli oleh para petani untuk bibit awal. Sedangkan berdasarkan MoU untuk harga singkong dibeli dari petani Rp700 per kilogram terima di pabrik pengolahan, sedangkan terima di atas truk di kebun petani atau di lahan dihargai Rp600. "Untuk harga jagung masih belum ditentukan, berkisar Rp3.100 sampai Rp3.200 per kilogram." jelasnya.
Dirut PT. Tambora Makmur Persada, Hari Susanto menyatakan, pihaknya bergerak cepat dalam rangka persiapan lokasi pabrik singkong, salah satunya dengan melakukan MoU ini. "Kita akan pindahkan sebagian komponen pabrik kita di Sumbawa Besar, dan sebagian lagi komponen baru. Yang jelas petani tanam singkong 3 bulan, pabrik kami sudah berdiri."
Hari menyebutkan, kebutuhan bahan baku singkong di pabrik pengolahan singkong yang dikelolanya mencapai 250 ton per hari. Dengan demikian, diharapkan para petani dan kelompok tani mampu menyediakan kebutuhan pokok pabrik nantinya berupa hasil akhir tepung terigu, sedangkan untuk jangung berupa pipil jangung dan tak menutup kemungkinan ke depan menghasilkan tepung maezena. "Kita juga tetap menerima singkong dari petani perorangan, tentunya dengan kriteria dan kualitas yang telah ditetapkan oleh perusahaan." (HAIRUL SALEH/N).








