SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Penurunan harga sarang walet berpengaruh terhadap sejumlah aspek ekonomi salah satunya daya beli masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

"Keluhan terhadap turun harga sarang walet yang sangat berpengaruh terhadap pendapat masyarakat mengakibatkan daya beli masyarakat menurun," kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Kotim Darmawati, Jumat, 2 Agustus 2024.

Penurunan harga sarang walet yang sempat menjadi komoditas unggulan di Kotim juga berakibat juga pembayaran pajak sarang walet. Sejumlah pembudidaya tidak bisa membayar pajaknya sehingga pendapatan asli daerah (PAD) menjadi turun.

"Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah," ujarnya. 

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim Ramadansyah mengakui realisasi PAD sarang burung walet pada tahun 2023 tidak mencapai target. Kondisi itu dinilai masih akan berpengaruh pada tahun 2024 akibat pembudidaya mengalami penurunan hasil panen.

--page

Adapun realisasi pajak sarang burung pada tahun 2024 saat ini mencapai 38,14 persen dari target Rp560 juta.

Sementara itu seorang pembudidaya sarang burung walet mengeluhkan penurunan harga sejak 2 tahun terakhir. Kondisi itu diduga berkurangnya permintaan dari negara China.

"Harga saat ini anjlok dan produksi berkurang. Saat ini per kilogram untuk jenis mangkok Rp8 juta, sudut Rp6 juta, patahan Rp5 juta. Kalau dulu harga tertinggi sempat Rp18 juta," kata Arya seorang pembudidaya sarang burung walet. (DEWI PATMALASARI/Y)