BORNEONEWS, Kasongan - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan Hartoni mengatakan, terkait tunjangan sertifikasi guru pihaknya sejauh ini masih menunggu petunjuk teknis dari pusat.

"Sebab aturan sertifikasi itu, adalah aturan dari pusat. Makanya semua kabupaten diminta melengkapi berkas," sebut Kepala Dinas Pendidikan Katingan, Hartoni, Rabu (15/6/2016).

Berkas-berkas itu, kata Hartoni nantinya akan disesuaikan sambil menunggu petunjuk teknisnya dari pusat. Sebab yang berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi atau tidak ini adalah ditentukan pihak pusat. Pihaknya hanya memberikan data saja sesuai aturan.

"Jadi kalau ada guru-guru yang datanya kurang atau tidak sesuai dengan ketentuan sertifikasi tadi, bisa jadi tidak dapat tunjangan sertifikasi itu. Jadi kita menunggu hasil dari sana (pusat)," katanya.

Menurut Hartoni, jika saat ini terkait anggaran tunjangan sertifikasi bagi guru di daerahnya sudah siap pada kas daerah (Kasda).

Namun pihaknya masih perlu pembenahan data, siapa tahu datanya yang sudah dianggap siap, ternyata belum. 

"Jadi kalau belum siap namun dibayarkan kan nanti guru yang bersangkutan harus mengembalikan, kasihan. Dan ini sudah sering terjadi yang tidak sesuai data di lapangan misalnya jam mengajarnya kurang tapi diolah tidak sesuai dan akhirnya mereka mengembalikan," katanya.

Pihaknya, imbuh Hartoni, agak hati-hati dalam kaitan memberikan tunjangan sertifikasi itu, yakni harus sesuai prosedur dan petunjuk teknisnya yang ada.

Namun untuk guru yang masih berijazah SMA, Hartoni menuturkan, jika mereka tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi ini, sebab pada ketentuanya yang dapat mengurus tunjangan sertifikasi ini adalah guru yang sudah sarjana (S1).

Terkait guru yang belum sarjana ini, Hartoni mengatakan jika Pemkab Katingan sejak 2013 memprogramkan para guru ini untuk menempuh kuliah di perguruan tinggi mengambil gelar sarjana.

Kabupaten Katingan, kata Hartoni, sejak akhir 2013 ada program menyekolahkan guru bagi guru yang belum memenuhi standar (S1).

"Ada sekitar 700-an guru yang disekolahkan ke jenjang S1 ini, dan sampai sekarang yang masih belum lulus sekitar 30-an guru lagi," imbuhnya. (ABDUL GOFUR/m)