BORNEONEWS,Lamandau-Masyarakat di Kabupaten Lamandau sebenarnya disebut-sebut sudah sejak lama melakukan budidaya pengembangan kopi. Namun, akibat ketidaktahuan dalam hal pemasaran, tidak sedikit yang akhirnya beralih ke tanaman lain yang lebih menjanjikan seperti kelapa sawit dan karet.

Berbicara tentang tanaman kelapa sawit dan karet, dengan adanya fluktuasi harga perkebunan yang sering terjadi pada sawit dan karet akhir-akhir ini, masyarakat juga tidak bisa berbuat banyak. Oleh sebab itu, diperlukan ada perkebunan lain yang tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga.

Bupati lamandau, Ir. Marukan, menganggap tidak ada salahnya apabila komoditas tanaman Kopi dan Kakao dikembangkan lebih besar lagi di Kabupaten Lamandau.

Hal itu disampaikannya dalam kesempatan kunjungan kerjanya (kunker) di Pusat Penelitian (puslit) Perkebunan kopi dan kakao Indonesia di Jember, Rabu (15/6) lalu.

"Kita (Pemkab Lamandau) berencana melakukan budidaya pengembangan perkebunan kopi dan kakao yang sudah kita tahu juga cocok di daerah Lamandau," ungkapnya.

Menurutnya, tidak terpengaruhnya harga kopi di pasaran jika terjadi fluktuasi, karena kopi merupakan tanaman yang berbasis pangan. Sehingga tidak mudah dipermainkan oleh harga di pasar.

Di tempat yang sama, Direktur Puslit perkebunan kopi dan kakao Indonesia, Dr. Misnawi, mengatakan bahwa tidak perlu waktu lama untuk tanaman kopi bisa berbuah.

"Pada saat ini tanaman kopi hanya perlu 2 tahun dari tanam sudah bisa dipanen. Bahkan, tanaman kopi juga bisa ditanam tumpang sari dengan tanaman Lamtoro, karet atau Lada," sebutnya.

Sehingga, imbuhnya, dalam perkebunan tersebut ada yang dapat dipanen tiap hari, tiap bulan dan 6 bulan sekali. (HN/*)