Berita Borneonews menyebutkan, warga sengaja membuat titian di ruas jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama (Kolam), Kotawaringin Barat dan menarik pungutan kepada kendaraan yang lewat di atas titian tersebut.
Titian tersebut dibuat warga setelah banjir yang berlangsung puluhan hari itu surut. Dan titian itu khusus dibuat oleh warga di atas bagian jalan yang masih tergenang air dan berlumpur dalam. Di situ biasanya banyak kendaraan amblas.
Anggota DPRD Kotawaringin Barat daerah pemilihan Kotawaringin Lama (Kolam) Nasrudin mengomentari, pungutan itu memberatkan pengguna jalan.
Juhri, salah seorang warga yangmengelola titian itu menaggapi, apa yang dikemukakan Nasrudin itu sangatlah berlebihan. “Titian kayu tersebut untuk membantu para pengguna jalan yang sering amblas karena lobang dan lumpurnya dalam.”
Lebih lanjut Juhri mengakui, pihaknya memang memungut dana Rp20 ribu untuk mobil. Sedangkan untuk motor, pihaknya mengaku menerima pemberian seiklasnya dari pengendara. “Dan banyak mobil membayar Rp10 ribu atau Rp15 ribu saja, namun tidak masalah bagi kami.”
Lebih jauh Juhri menjelaskan, pembuatan titian itu sudah ada kesepakatan dengan para sopir travel dari arah Kotawaringin Lama.
“Dan pembuatan ini mengunakan modal, jadi kami rasa wajar kami melakukan pungutan. Tetapi Nasrudin yang anggota DPRD Kobar itu tidak pernah bayar lewat portal yang kami buat.”
Warga yang membuat titian ini bermasud membantu agar pengguna jalan bisa lancar sampai tempat tujuan. “Yang nyata kami tidak melakukan korupsi, kami mencari uang halal dengan cara menjual jasa.”
Atas nama warga, Juhri menampik jika dibilang sengaja merusak jalan. “Tolong buktikan biar kalau ada anggota kami yang melakukan kita serahkan ke yang berwajib. Jangan asal bicara.”
Sebagai warga masyarakat para pengelola titian itu sangat setuju kalau jalan tersebut diperbaiki. “Kamipun senang, agar masyarakat bisa menikmati jalan yang diharapkan.”
Warga pengelola jasa titian berpesan, apa yang mereka lakukan semata untuk membantu pengguna jalan yang sering amblas ke dalam lumpur atau lobang. Selain itu, mereka juga butuh pekerjaan, butuh mata pencaharian. Tetapi selama ini tidak ada yang memperhatikan.
“Para bapak anggota DPRD Kobar khususnya dapil/perwakilan Kolam, apa yang anda kerjakan di sana untuk Kolam. Jangan hanya kenyang sendiri, tolong pikirkan nasib kami yang susah dan miskin ini.” (*)








