PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Siswandi mengatakan fase transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja semakin pelik karena faktor sosio ekonomi.  

Lulusan dunia pendidikan juga dibayangi oleh situasi pekerjaan informal sampai menjadi pengangguran.

Permasalahan tersebut menunjukkan peran penting pemerintah daerah melalui dinas pendidikan agar dapat menjawab tantangan tersebut. 

"Fase transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja memang semakin pelik, terutama karena faktor sosial ekonomi yang memengaruhi kesiapan dan kemampuan lulusan untuk memasuki pasar kerja," katanya, Senin, 11 Agustus 2024.

Katanya, beberapa tantangan utama dalam fase transisi ini termasuk kesenjangan keterampilan, karena banyak lulusan sekolah dan universitas tidak memiliki keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Hal ini disebabkan oleh kurikulum yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan tuntutan pasar kerja. 

"Akibatnya, lulusan sering kali kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi mereka. Keterbatasan akses ke peluang kerja mengakibatkan lulusan dari keluarga dengan latar belakang sosio ekonomi rendah sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mencari pekerjaan," bebernya.

Faktor seperti kurangnya jaringan profesional, akses terbatas ke informasi tentang peluang kerja, dan stigma sosial dapat menghambat mereka dalam memperoleh pekerjaan yang layak.

"Tekanan ekonomi menjadikan banyak lulusan yang terpaksa segera bekerja untuk mendukung keluarga mereka, meskipun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan bidang keahlian atau minat mereka. Tekanan ekonomi ini membuat mereka lebih memilih pekerjaan apa pun yang tersedia daripada menunggu kesempatan yang lebih baik," tuturnya.

Adanya dinamika pasar kerja yang berubah dengan cepat, terutama dengan munculnya teknologi baru dan globalisasi, membuat banyak pekerjaan tradisional berkurang.

--page

Lulusan harus bersaing dalam pasar yang lebih kompetitif dan sering kali harus mengembangkan keterampilan baru secara terus-menerus.

"Solusi yang dapat diterapkan pengembangan kurikulum berbasis keterampilan lembaga pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk keterampilan teknis, keterampilan digital, dan keterampilan interpersonal," tandasnya. (MARINI/R)