MANOKWARI –
**Borneonews**, Teminabuan - Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) perwakilan Papua Barat Daya menilai bahwa penerapan Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di Sorong Selatan (Sorsel) adalah langkah strategis yang diadaptasi berdasarkan konteks lokal masyarakat Papua. Anggota BP3OKP, Otto Ihalauw, menjelaskan bahwa SSH dapat dilihat sebagai sebuah modifikasi dari sistem pendidikan yang dulunya dikenal dengan pola pendidikan asrama. Menurut Otto, SSH merupakan inovasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di Tanah Papua, di mana banyak anak usia sekolah masih belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak yang putus sekolah di wilayah ini cukup signifikan. Kehadiran SSH di Distrik Konda, Sorsel, diharapkan bisa menjadi contoh penerapan model pendidikan yang lebih luas di seluruh Papua. "Data BPS menunjukkan bahwa banyak anak usia sekolah di Papua yang tidak mendapatkan pendidikan. Dengan adanya SSH, anak-anak yang sebelumnya putus sekolah kini dapat kembali bersekolah, dan ini merupakan bagian dari tanggung jawab negara," ujar Otto. SSH beroperasi dengan pola asrama yang mencakup semua kebutuhan peserta didik, mulai dari penyediaan pakaian, makanan, hingga perhatian terhadap kebersihan, kesehatan, dan pembentukan karakter. Pendekatan ini juga dianggap berkontribusi positif terhadap upaya pencegahan dan penanganan stunting di kawasan ini. "Ketika kita berdiskusi di tingkat nasional, sering kali muncul program-program yang memanfaatkan kearifan lokal. Salah satunya adalah SSH yang ada di Konda, di mana masyarakat setempat, termasuk para ibu rumah tangga, terlibat langsung dalam pengelolaan makanan. Makanan yang disajikan mencakup berbagai pangan lokal seperti kepiting, udang, dan papeda. Kami juga menyediakan fasilitas mandi, saluran air yang baik, serta menanamkan nilai-nilai karakter melalui doa sebelum pelajaran dimulai. Selain itu, anak-anak akan mendapatkan makan sebanyak tiga kali sehari. Dengan begitu, salah satu sasaran kami adalah penanganan masalah stunting,” jelas Otto lebih lanjut. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara BP3OKP, para ahli pendidikan dari Universitas Negeri Papua (UNIPA), serta dukungan dari pemerintah Sorsel. Otto berharap SSH akan menjadi instrumen penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Papua dan menjadi bagian dari kebijakan aksi nasional yang lebih luas. “Kerjasama kami dengan UNIPA dan dukungan dari pemerintah Sorsel sangat penting. Hal ini tidak hanya sekadar inisiatif lokal tetapi telah diakui dalam rencana aksi nasional yang akan diterapkan di seluruh Tanah Papua,” tutupnya. ANTARA