**Borneonews**, Cilacap - Penurunan suhu udara yang dirasakan di beberapa wilayah Jawa Tengah, khususnya di Cilacap, diketahui dipengaruhi oleh *monsoon dingin* yang berasal dari Australia. Penjelasan ini disampaikan oleh Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo. Ia menjelaskan bahwa pergerakan massa udara dingin dan kering dari Australia ini menjalar menuju Asia, melewati Indonesia dan menciptakan perubahan suhu yang signifikan.
Melalui pengamatan yang dilakukan di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung dan Pos Pengamatan Cuaca Bandara Tunggul Wulung, Teguh mencatat bahwa pada Selasa lalu, suhu udara minimum yang terukur jauh lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Rata-rata suhu yang tercatat berada di kisaran 23 derajat Celsius, sementara pada Selasa, suhu di wilayah perkotaan Cilacap tercatat mencapai 20,4 derajat Celsius, dan di Pos Pengamatan Cuaca Bandara, suhu mencapai 19,4 derajat Celsius.
Ia juga menekankan bahwa daerah dataran tinggi atau pegunungan umumnya akan mengalami suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah pesisir. Dalam hal ini, laju penurunan suhu berkisar 0,5 derajat Celsius untuk setiap kenaikan 100 meter di atas permukaan laut.
Meskipun terjadi penurunan suhu yang cukup terasa, Teguh mengungkapkan bahwa suhu 19,4 derajat Celsius yang tercatat di Bandara Tunggul Wulung belum mencapai rekor suhu terendah di Cilacap selama 45 tahun terakhir. Rekor tertinggi suhu minimal yang tercatat terjadi pada 14 Agustus 1994, saat suhu mencapai 17,4 derajat Celsius, dengan suhu maksimum saat itu hanya 25,8 derajat Celsius.
Teguh mencatat bahwa selisih antara suhu minimum tahun 1994 dan suhu yang tercatat saat ini mencatatkan jarak 2 derajat Celsius, yang menunjukkan bahwa kondisi dingin saat ini masih dalam kategori normal. Ia memperkirakan berdasarkan informasi dari Stasiun Klimatologi Semarang, puncak musim kemarau di kawasan Jawa Tengah bagian selatan akan berlangsung pada Agustus 2024.
Lebih lanjut, Teguh memprediksi bahwa suhu minimum pada malam dan pagi hari akan terus menurun, memberikan indikasi bahwa fenomena suhu dingin ini kemungkinan akan berlanjut hingga akhir Agustus bahkan memasuki awal September 2024. Ia kembali menegaskan bahwa fenomena dingin ini adalah hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat.
Di sisi lain, kemunculan kabut pagi hari selama musim kemarau menjadi hal yang umum dan dapat meningkatkan rasa dingin di berbagai daerah termasuk Cilacap. Poin pentingnya, meskipun suhu udara terasa dingin pada malam dan pagi hari, suhu siang harinya bisa sangat berbeda. Hal ini disebabkan oleh tutupan awan yang minim ketika sinar matahari memancar, sehingga panas dari bumi tidak dapat terperangkap dalam atmosfer dan sebaliknya langsung terbuang ke angkasa.
Secara keseluruhan, kondisi cuaca saat ini di Cilacap merupakan manifestasi dari perubahan iklim sementara yang dipengaruhi oleh pergerakan massa udara dari Australia. Fenomena ini menciptakan keragaman suhu yang dirasakan masyarakat dan diharapkan masyarakat bisa memahami serta mengikuti perkembangan cuaca di wilayah mereka.
ANTARA
Suhu Dingin Cilacap, Fenomena Monsoon dari Australia Terungkap
Bagikan:

SEMARANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kholidin/Noviera Melaju ke Final para Panahan Asian Para Games 2026
Gempa Tibet Tewaskan 16 Orang, 54 Lainnya Terluka
DPRD Kotim Dorong Anggaran Rp3,3 M untuk Laboratorium Lingkungan demi Optimalkan PAD
Leli/Osrita Raih Perunggu para Tenis Meja Ganda Putri WD10
Karhutla di Belakang SMKN 3 Kuala Kapuas Merembet ke Bangunan Warga
Tokoh Lintas Agama Ingatkan Pentingnya Huma Betang dan Kerukunan di Kalteng
Komentar (0)
Memuat komentar…







