JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Hilirisasi perikanan air tawar di desa-desa merupakan langkah strategis dalam mengubah potensi menjadi sumber kesejahteraan yang lebih nyata. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya perairannya, memiliki peluang besar dalam sektor perikanan, terutama dalam perikanan air tawar yang masih belum tergarap secara optimal di berbagai desa. Oleh karena itu, hilirisasi di sektor ini menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di perdesaan. Sumber daya perikanan air tawar melimpah di banyak desa di Indonesia, seperti sungai, danau, dan kolam. Namun, dalam praktiknya, banyak ikan hasil tangkapan yang hanya dijual dalam bentuk segar atau diasinkan, dengan nilai jual yang relatif rendah. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi penting; misalnya, dengan mengolah ikan menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti abon ikan, kerupuk ikan, nugget ikan, bakso ikan, ikan asap, hingga ragam makanan olahan lainnya. Produk sampingan juga bisa menjadi peluang, seperti kulit ikan yang dapat diolah menjadi kerupuk kulit atau bahan baku gelatin, serta tulang ikan yang dimanfaatkan untuk tepung ikan sebagai pakan ternak. Diversifikasi produk menjadi salah satu fokus penting dalam hilirisasi. Inovasi produk juga perlu diperhatikan, misalnya dengan mengembangkan abon ikan rendah garam, kerupuk ikan bebas gluten, dan nugget ikan dengan tambahan nutrisi. Hal ini tidak hanya meningkatkan nilai jual produk olahan, tetapi juga berkontribusi pada pendapatan nelayan dan pembudi daya ikan. Lebih jauh, hilirisasi menciptakan peluang kerja yang lebih luas, mencakup berbagai bidang mulai dari pengolahan hingga pemasaran dan distribusi, serta mendiversifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas lapangan kerja, berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat desa. Salah satu langkah strategis untuk mengembangkan hilirisasi perikanan air tawar di desa-desa adalah dengan penguatan kapasitas nelayan dan pembudi daya ikan melalui pelatihan dan pendampingan dalam pengolahan ikan, manajemen usaha, dan pemasaran. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung juga krusial, seperti penyediaan fasilitas yang memadai untuk pengolahan dan penyimpanan ikan. Memfasilitasi akses pasar menjadi penting untuk memperluas pemasaran produk olahan ikan, baik di pasar lokal, regional, maupun nasional. Tidak kalah signifikan adalah membangun kemitraan antara nelayan, pembudi daya ikan, pemerintah desa, pelaku usaha, dan lembaga penelitian guna memperkuat rantai nilai perikanan air tawar. Program SensHation adalah salah satu contoh nyata penghiliran perikanan air tawar yang menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Program ini diinisiasi melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang didukung oleh Kemdikbudristek, melibatkan kolaborasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam melaksanakan praktik hilirisasi di Desa Sendangrejo, Yogyakarta. Tim Ormawa Nawasatya, yang terdiri dari 15 anggota dari berbagai program studi, berhasil menyusun matriks program bernama SensHation (Sendangrejo House of Economical Innovation) yang bertujuan untuk meningkatkan nilai kewirausahaan di desa tersebut. Ketua Pelaksana PPK Ormawa Nawasatya, Muhammad Salman, membagikan pelajaran berharga dari program SensHation. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa bulan dengan fokus pada peningkatan nilai ekonomi kelompok pembudi daya perikanan, yang melibatkan perwakilan dari setiap RT di enam RW yang ada di Desa Sendangrejo. Implementasi program ini berlandaskan pada permasalahan yang telah ada selama beberapa tahun terakhir, seperti penurunan produksi ikan gurami akibat perubahan iklim dan pencemaran sumber air, serta dampak negatif dari pandemi COVID-19 yang mempengaruhi gerakan pasar perikanan. Program SensHation mengusulkan tiga pilar utama, yaitu House of Hatchery Innovation yang berfokus pada pendederan ikan nila, House of Product Innovation yang mengedepankan diversifikasi produk olahan ikan, dan House of Merchant Innovation yang menyediakan pelatihan manajemen kewirausahaan serta pendampingan pemasaran produk melalui jaringan kemitraan. Dengan memanfaatkan teknologi water chamber incubator untuk meningkatkan daya tetas telur ikan nila dan pembuatan bio active filter untuk kualitas pendederan ikan gurami, program ini berupaya mendorong keberhasilan dalam pengembangan produk. Memasuki bulan terakhir program, dilaksanakan pelatihan manajemen kewirausahaan bagi pelaku usaha perikanan untuk memperluas jaringan pasar. Dosen pembimbing, Nasih Widya Yuwono, mencatat bahwa program SensHation menjadi semakin terintegrasi dengan komunitas sasaran dan memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Melalui lokakarya yang melibatkan pemangku kepentingan, program hilirisasi ini difasilitasi untuk menjalin kerjasama guna memajukan sektor perikanan di desa. Penandatanganan kesepakatan antara tim pelaksana dan pihak desa menjadi simbol komitmen untuk kesuksesan program ke depan. Dengan dukungan yang tepat, Program SensHation diharapkan tidak hanya menciptakan model inovasi kewirausahaan yang dapat direplikasi di desa-desa lain, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pengelolaan akuakultur perikanan yang berkelanjutan. Ketua Nawasatya UGM, Florentina Rachel, menekankan pentingnya inovasi sebagai solusi menghadapi tantangan di sektor perikanan, menandakan bahwa keberhasilan program ini dapat menjadi referensi berharga bagi upaya hilirisasi perikanan air tawar di skala yang lebih luas. ANTARA