BORNEONEWS, Palangka Raya - Satu penyakit di Kota Palangka Raya yang masih belum betul-betul teratasi adalah masalah sampah. Kondisisaat ini, timbulan sampah Kota mencapai 119,1 ton per hari, sedangkan yang mampu diangkut hanya sekitar 57 ton per hari.
Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Perumahan (Disciptarum) Kota Palangka Raya menginventarisir, ada empat masalah umum pengelolaan sampah. Namun kendala berat adalah sarana pengelolaan dan ketersediaan armada yang belum mencukupi sehingga tidak bisa sekaligus satu kali angkut semua pembuangan sampah sementara (TPS) menuju tempat pembuangan akhir (TPA) di Km 14.
Tiga masalah lainnya adalah sering adanya pelanggaran rute angkut sampah karena lemahnya mekanisme pengawasan, kesadaran masyarakat kota yang masih minim dalam hal jam buang sampah, serta jumlah dan kapasitas SDM yang minim.
Namun masalah-masalah itu kini mulai mendapat ‘obatnya’ terutama dalam hal pelanggaran rute angkut. Para sopir armada sampah yang biasanya bisa mengakali jalur angkut atau mengelabui laporan jumlah TPS yang diangkut per harinya, kini bisa terpantau realtime sepanjang hari.
“Kini mereka tidak bisa lagi tipu-tipu. Disciptarum meluncurkan Sistem Deteksi dan Edukasi tentang Informasi Pengelolaan Sampah atau yang disingkat (Si DETEKTIP Sampah). Ini secara online bisa memantau pergerakan mereka di jalur mengambil sampah di TPS mana-mana saja,hingga menuju ke TPA. Dini hari sopirlambat ambil sampah, bahkan mobil berhenti pun akan ketahuan,” ungkap Kepala Disciptarum, Rojikinnor saat ekspos sistem monitor itu di ruang PK I, Kamis (16/6) sore.
Sistem pemantauan yang mengaplikasikan pemanfaatan teknologi itu banyak kelebihan. Pertama, peralatan dibuat dan dirancang oleh staf dinas sendiri sehingga lebih murah dan kalau ada kerusakan bisa langsung ditangani. Kedua, langsung bisa memetakan masalah di lapangan dan solusinya.
Antara lain, jika selama ini belum ada pelacakan atau tracking dan monitoring langsung atas pergerakan kendaraan sehingga tidak tahu sopir membawa kendaraannya kemana saja, kini sudah teratasi karena terpantau secara online menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Mobil truk yang sedang parkir di pool atau masih di luar mengangkut sampah akan ketahuan. Sopir nakal yang akan membawa truk keluar jalur pembuangan sampah, mesin truk akan mati sendiri.
“Bahkan kesulitan dalam menangani keluhan masyarakat terkait sampah tak terangkut pun kita bisa atasi. Sebab kita buat SMS Center, masyarakat yang mengirim pesan aduan atau informasi sampah belum terangkut, akan diterima center lalu diteruskan ke sopir armada terdekat di lapangan agar mengambilnya. Jadi ini memperbaiki lemahnya sistem pengawasan dan menambah partisipasi publik. Wakil Walikota bisa memantau pergerakan truk di jalan dengan HP pun bisa,“ jelasnya.
Kepada Borneonews Rojikinnor menyebutkan, kini sopir-sopir yang ada sudah mulai bagus. Sebagian yang tahun lalu suka mengakali dan melaporkan fiktif, kini sudah banyak yang dipecat. Masalah lain misalnya masih manualnya pelaporan pengangkutan menggunakan karcis angkut dipos jaga, sekarang sudah terintegrasi. (RZ/*)








