JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Kementerian Kesehatan Indonesia mengumumkan bahwa pada tahun 2024, mereka akan memperluas cakupan uji coba skrining untuk kanker serviks. Skrining ini akan ditujukan bagi perempuan berusia antara 30 hingga 69 tahun dan dilakukan di 26 kabupaten serta kota yang tersebar di 15 provinsi. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya eliminasi kanker serviks di Indonesia yang ditargetkan selesai pada tahun 2030. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara edukasi pencegahan kanker serviks bertema *Tenang Untuk Menang*, Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Yudhi Pramono, menjelaskan bahwa uji coba skrining kanker serviks yang menggunakan metode HPV DNA telah dilaksanakan pada tahun 2023 di Jakarta. Yudhi menegaskan komitmen kementerian untuk memperluas program ini secara nasional sejalan dengan kebijakan pemerintah baru yang ada. Yudhi merinci bahwa skrining kanker serviks adalah salah satu dari tiga inisiatif yang diusung pemerintah untuk mencegah dan mengendalikan kanker leher rahim. Dua langkah lainnya meliputi upaya untuk mencapai cakupan imunisasi HPV sebesar 90 persen bagi anak perempuan dan laki-laki yang berusia 15 tahun, serta memastikan bahwa 90 persen perempuan dengan lesi pra-kanker serviks dan kanker memperoleh pengobatan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kementerian Kesehatan juga telah menyusun Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim untuk periode 2023-2030. Rencana ini merupakan pendekatan komprehensif yang bertujuan tidak hanya untuk mengeliminasi kanker serviks, tetapi juga untuk memberdayakan perempuan serta membangun masyarakat yang lebih sehat dan berketahanan. Diketahui bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling umum kedua yang menyerang perempuan di Indonesia. Pada tahun 2022, terdapat sekitar 36 ribu kasus yang tercatat, dengan 20 ribu kematian akibat penyakit ini. Yudhi mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen pasien datang untuk mendapatkan perawatan saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Mengacu pada data yang dirilis oleh BPJS Kesehatan pada tahun 2023, biaya penanganan kanker di Indonesia diperkirakan mencapai Rp5,9 triliun. Hal ini menekankan pentingnya pencegahan dan pengendalian penyakit-penyakit katastropik, termasuk kanker, dengan pendekatan yang lebih baik dan terintegrasi. Yudhi menekankan komitmen kementerian untuk terus berupaya mencegah dan mengendalikan kanker serviks melalui promosi berbagai program di tingkat dunia, seperti integrasi program imunisasi, kesehatan seksual dan reproduksi, serta layanan kesehatan untuk penyakit menular dan tidak menular. Ia juga menyatakan perlunya dukungan dari kementerian lain, lembaga, dan pihak terkait guna harmonisasi pelaksanaan imunisasi HPV, skrining HPV DNA, serta penanganan untuk lesi pra-kanker dan kanker. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat tercapai eliminasi kanker leher rahim dengan tingkat yang tinggi dan merata di seluruh Indonesia. ANTARA