BATAM –
**Borneonews, Tanjungpinang** - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Mochammad Bisri menginformasikan bahwa sejumlah anak berusia 0-7 bulan di wilayah tersebut telah mendapatkan vaksin polio dalam rangka Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio tahap pertama tahun 2024. Menurut Bisri, target sasaran untuk vaksinasi polio ialah sebanyak orang, sementara realisasinya hingga saat ini baru mencapai sebanyak orang atau 74 persen. Capaian ini membuat Kepri menempati posisi sebagai salah satu provinsi dengan cakupan PIN polio yang tergolong rendah secara nasional, dengan angka yang masih berada di bawah target nasional yang ditetapkan sebesar 95 persen. Kepri kini berada di urutan 21 dari total 27 provinsi di Indonesia yang telah mengikuti vaksinasi polio putaran kedua. Dalam penjelasannya, Bisri juga memberikan rincian capaian PIN polio di tujuh kabupaten/kota yang ada di Kepri. Capaian vaksinasi per kabupaten/kota adalah sebagai berikut: Kabupaten Bintan 83,6 persen, Kabupaten Anambas 82,3 persen, Kabupaten Lingga 78,8 persen, Kota Tanjungpinang 74,4 persen, Kota Batam 72,5 persen, Kabupaten Karimun 72,2 persen, dan Kabupaten Natuna 71,4 persen. Capaian ini merupakan hasil pengukuran sejak dimulainya PIN polio putaran pertama yang berlangsung dari tanggal 23 Juli 2024 hingga 13 Agustus 2024. Bisri menambahkan bahwa saat ini wilayah Kepri telah memasuki fase kedua dari PIN polio. Meskipun demikian, vaksinasi untuk putaran pertama tetap dibuka bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi, karena baik putaran pertama maupun kedua memiliki target yang sama yaitu 95 persen. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya capaian PIN polio pada putaran pertama dapat disebabkan oleh penolakan dari orangtua untuk divaksin. Banyak orang tua beranggapan bahwa anak-anak mereka sudah mendapatkan imunisasi polio routine sejak usia satu bulan hingga tujuh bulan. Namun, imunisasi rutin yang diberikan hanya mencakup tipe pertama dan tipe ketiga, sementara tipe kedua telah dihentikan sejak Indonesia memperoleh sertifikat bebas polio dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014. Sejak awal tahun 2022 hingga saat ini, kejadian luar biasa (KLB) polio telah dilaporkan di tujuh provinsi di Indonesia, yaitu Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Kasus polio yang terjadi didominasi oleh tipe kedua. Situasi ini membuat Indonesia tidak lagi bebas polio, sehingga WHO harus mencabut sertifikat tersebut dan merekomendasikan imunisasi massal polio tetes tipe dua. Selain itu, Bisri juga mengidentifikasi kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya vaksin polio sebagai faktor lain yang berkontribusi pada rendahnya cakupan PIN polio di Kepri. Ia mencatat bahwa masyarakat tampaknya kurang memahami informasi terkait PIN polio. Mendesak akan tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi hak kesehatan anak, Bisri menegaskan pentingnya vaksinasi untuk menghindari risiko penyakit polio yang dapat memberikan dampak serius pada sistem saraf dan fisik anak. Ia mendorong agar orang tua segera membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan vaksinasi di puskesmas atau posyandu terdekat. Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah setempat terus melaksanakan edukasi dan sosialisasi yang masif tentang polio kepada masyarakat. Bisri juga menginstruksikan tim kesehatan di setiap kabupaten/kota untuk secara aktif mendatangi rumah-rumah warga yang anak-anaknya belum terdaftar untuk mendapatkan imunisasi polio. "PIN polio putaran kedua masih berlangsung sampai dengan tanggal 23 Agustus 2024 dengan target capaian 95 persen, guna membangun kekebalan kelompok atau *herd immunity* sehingga kualitas kesehatan masyarakat terbebas dari polio," ujarnya. ANTARA