**Borneonews**, Washington - Amerika Serikat mengindikasikan potensi serangan dari Iran dan proksi-proksinya terhadap Israel dalam waktu dekat, yang diperkirakan terjadi pada pekan ini. Hal ini disampaikan oleh Gedung Putih, menyusul pembunuhan seorang pemimpin politik Hamas di Teheran pada bulan lalu. Munculnya spekulasi mengenai pembalasan dari Iran telah menjadi sorotan utama dalam beberapa hari terakhir.
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, John Kirby, dalam konferensi pers mengatakan bahwa AS memiliki kekhawatiran serupa dengan para mitranya di Israel terkait kemungkinan terjadinya serangan tersebut. "Kami memahami adanya potensi tindak balasan, dan mungkin akan terjadi pekan ini," ungkapnya. Namun, Kirby juga menggarisbawahi bahwa saat ini masih sulit untuk memprediksi seperti apa bentuk aksi balasan tersebut. Kendati demikian, ia memperkirakan bahwa bentuk balasan itu mungkin akan meliputi "serangkaian serangan yang cukup signifikan."
Kirby menambahkan bahwa Presiden Joe Biden yakin bahwa Amerika Serikat memiliki kapasitas yang diperlukan untuk membantu melindungi Israel jika situasi tersebut benar-benar terjadi. "Tidak seorang pun ingin melihat eskalasi lebih lanjut dalam kekerasan. Inilah alasan kami terus melakukan upaya diplomatik secara serius dalam beberapa hari terakhir untuk berusaha menenangkan situasi ini," tandasnya.
Pernyataan Kirby ini menyusul pembicaraan telepon Presiden Biden dengan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Dalam pembicaraan tersebut, mereka membahas ketegangan yang tengah melanda Timur Tengah, sekaligus menegaskan komitmen dalam mendukung Israel. "Pembicaraan ini sangat penting, terutama dalam konteks perlunya gencatan senjata, pemulangan para sandera, dan kami ingin menegaskan kembali bahwa kami tidak ingin melihat peningkatan kekerasan, termasuk serangan dari Iran atau proksinya," jelas Kirby lebih lanjut.
Sebagai langkah antisipatif, pada Minggu (11/8), Departemen Pertahanan AS mengumumkan bahwa Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, telah memerintahkan pengiriman kapal selam berpeluru kendali ke wilayah Timur Tengah. Selain itu, ia juga menginstruksikan agar kehadiran kelompok serang kapal induk di kawasan tersebut dipercepat.
Di lain sisi, baik Hamas maupun Iran menuduh Israel bertanggung jawab atas pembunuhan Haniyeh di Teheran. Sementara itu, Israel sendiri tidak mengonfirmasi maupun membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut. Aksi pembunuhan ini juga memicu dugaan bahwa kelompok Hizbullah dari Lebanon akan merespons sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin senior mereka, Fuad Shukr, yang tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut pada 30 Juli lalu, sehari sebelum Haniyeh dibunuh.
Serangkaian peristiwa tersebut semakin memperburuk situasi di kawasan yang dianggap genting ini dan berpotensi memicu konflik lebih luas. Sejak beberapa bulan terakhir, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan hampir 40 ribu warga Palestina. Di sisi lain, tidak sampai seratus orang yang dilaporkan tewas dalam serangan lintas batas yang dilancarkan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
ANTARA
Potensi Serangan Iran ke Israel Meningkat Pekan Ini
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Lewis Hamilton Tercepat dalam Sesi Latihan Bebas GP Amerika Serikat
Timnas Indonesia U15 Menang Telak atas Fiji, Hariri dan Dicky Dua Gol
Leo/Daniel Kandas di Semifinal French Open
Polres Barito Timur Kerahkan 38 Personel Padamkan Karhutla di Murutuwu
Veda Ega Sebut Tugasnya Belum Usai Setelah Berada di Pole Position
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







