BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur terus berupaya mencari solusi agar Bumi Habaring Hurung itu menjadi kota tujuan wisata, bukan sebagai lintasan tujuan wisata ke daerah lain. Untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu, upaya dan kerjasama dari semua pihak terutama para pelaku pariwisata.

“Saya berharap program pariwisata ini betul-betul dijalankan dengan baik. Untuk mewujudkan itu harus ada dukungan dari semua pihak, seperti pengusaha perhotelan, bagaimana mereka melayani tamu, restoran bagaimana menyuguhkan menu, sehinga wisatawan akan betah dan terkesan,” kata  Sekretaris Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, Putu Sudarsana, Jumat (17/6/2016).

Putu mencontohkan pariwisata di Bali, untuk menjadikan Bali sebagai kawasan pariwisata ternama bukanlah hal yang mudah, membutuhkan waktu yang panjang. Menjadikan Bali sebagai Kota Wisata membutuhkan waktu sekitar 100 tahun baru seperti itu.

Tidak salah jika Kotim bermimpi menjadi daerah tujuan wisata di Kalimantan Tengah. Tentu hal itu membutuhkan dana besar. Namun ke depan prospek daerah tujuan wisata akan lebih besar, karena devisa pariwisata adalah nomor dua.

“Devisa parwisata Indonesia ini nomor dua dari minyak. Sekarang pak bupati berpikir ke depan dikala sumber daya alam kita berkurang, munculah objek-objek wisata yang sudah kita programkan minimal lima tahun ke depan,” ujarnya.

Selain itu kata Putu, masyarakat setempat harus sadar akan penting dan mahalnya adat dan budaya daerah peninggalan leluhur. Semua itu adalah aset pariwisata yang bisa dikembangkan untuk menarik wisatawan.

“Kalau wisata kita hendak berkembang, warga kita harus sadar jangan kita yang justru mengatakan apa wisata kita ini. Baru akan bisa berkembang pariwisata menyatukan diri, menjual destinasi itu. Kita terkadang tidak menghargai budaya kita sendiri. Misalnya ada tempat yang disakralkan dan kuno itu harus terus dijaga, nanti tergantung gaetnya bagaimana dia menjelaskn kepada wisatawan,” katanya.

Pariwisata ini memerlukan banyak inovasi dari semua pihak. Pemerintah siap memfasilitasi untuk mengembangkan infrastruktur pariwisata, pelaku pariwisata membantu menjual atau mempromosikan kepada pihak luar tentang wisata daerah.

“Seperti misalnya, Tiwah ini luar biasa, tapi kita belum bisa menjual secara luas, walaupun sudah ada. Mandi safar, simah laut ini adalah asset wisata kita. Yang di Bali dan Jogja yang ditonjolkan adalah budayanya, dan kalau ada pro kontra terkait budaya itu dengan agama, kita harus pisahkan dulu mana agama dan budaya,” ucapnya. (RAFIUDIN/m)