BOGOR –
**Borneonews**, Bekasi - Perseroda Bekasi bersama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF telah menandatangani kerja sama untuk menyalurkan dana hibah guna renovasi rumah yang ramah lingkungan di Kota Bekasi, Jawa Barat. Kolaborasi ini merupakan implementasi dari 'pilot project' Indonesia Green Affordable Housing Program (IGAHP) yang didukung oleh Lembaga Internasional Build Change, dan bertujuan untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kota Bekasi memiliki rumah yang lebih peduli terhadap lingkungan. Direktur Utama BPRS Patriot, Fasihul Islam, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu, di mana penggunaan dana difokuskan pada renovasi rumah yang bisa dikategorikan ramah lingkungan. Dengan demikian, diharapkan bahwa program ini dapat memberi manfaat dan mendorong kesejahteraan warga Kota Bekasi. Penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut dilakukan oleh Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo dan Direktur Utama BPRS Patriot, disaksikan oleh Penjabat Wali Kota Bekasi Raden Gani Muhammad. Hadir pula Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Perumahan dari Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Haryo Bekti, Direktur Swadaya Masyarakat dari Ditjen Perumahan Kementerian PUPR Salahudin Rasyidi, dan Country Manager Build Change Mediatrich Triani. Penjabat Wali Kota Bekasi, Raden Gani Muhammad, mengungkapkan bahwa perhatian terhadap isu lingkungan hidup semakin serius dan mendesak, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang mempengaruhi cuaca. Menurutnya, melalui kemitraan ini, BPRS Patriot akan dapat menyalurkan hibah bagi MBR untuk renovasi rumah, sebesar 20 persen dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) renovasi dengan maksimum pembiayaan hingga Rp50 juta dan menargetkan renovasi 40 rumah sebagai pilot project. Ananta Wiyogo, Direktur Utama SMF, menekankan bahwa program IGAHP ini lebih dari sekadar inisiatif, tetapi merupakan komitmen yang nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sesuai dengan 'Sustainable Development Goals (SDGs)' nomor 11 yang berfokus pada 'Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan'. Melalui program ini, diharapkan solusi perumahan yang terjangkau, tanggap terhadap perubahan iklim, dan tahan bencana seperti gempa bumi dapat diwujudkan. Berdasarkan 'Climate Transparency Report 2021', sektor permukiman menyumbang 3,88 persen terhadap emisi langsung dan 20,72 persen terhadap emisi tidak langsung. Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi dengan mengintegrasikan teknologi dan material bangunan yang ramah lingkungan. Sebagai 'special mission vehicle' Kementerian Keuangan di sektor perumahan, SMF berkomitmen menyediakan akses perumahan yang layak, aman, tangguh, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat, dengan IGAHP diharapkan bisa mengatasi backlog rumah yang tidak layak huni di Indonesia. "Dana hibah dari Build Change akan disalurkan melalui skema Kredit Pembangunan/Peningkatan Rumah (KPPR) dan Pembiayaan Mikro Perumahan Resilien Hijau yang diharapkan dapat menurunkan beban angsuran bagi masyarakat, sehingga akses terhadap perumahan layak, ramah lingkungan, dan tahan bencana bisa diperluas," jelas Ananta. Mediatrich Triani, Country Manager Build Change, menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah memprogramkan penurunan emisi carbon dioxide sekitar 28 juta ton, dan 93 persen diharapkan dari sektor perumahan. Aspek hijau serta ketahanan bencana menjadi pondasi bagi program IGAHP. "Gempa seharusnya tidak menjadi bencana melainkan hanya fenomena alam. Dengan struktur rumah yang kuat, risiko bencana akibat gempa bisa dihindari," tegasnya. Dengan mengintegrasikan resiliensi bencana dalam proyek ini, harapannya adalah pihak lembaga keuangan bisa memaksimalkan perannya dalam mengawasi kualitas rumah. Menurut Haryo Bekti dari Kementerian PUPR, perubahan iklim menuntut upaya adaptasi terhadap fenomena alam yang terjadi setiap tahun. Program ini adalah langkah konkret untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta dampak dari perubahan iklim melalui pembangunan perumahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan dukungan Build Change, hibah sebesar USD 50 ribu diproyeksikan untuk menyokong pembangunan rumah hijau dan berketahanan bencana di dua lokasi yaitu Kota Bekasi dan Kabupaten Kendal. ANTARA