SEMARANG –
**Borneonews**, Semarang - Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Lumpang Semar Sejahtera kini menjadi contoh acuan bagi berbagai tim pengendalian inflasi daerah (TPID) dari berbagai wilayah di Indonesia dalam menerapkan strategi dan metode pengendalian inflasi di daerah masing-masing. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengungkapkan bahwa sejumlah TPID dari daerah lain telah melakukan studi banding ke BUMP PT Lumpang Semar Sejahtera. Sebagai contoh, pada pekan lalu, TPID dari Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya berkunjung ke Kota Semarang untuk mempelajari model BUMP yang berhasil diterapkan di wilayah tersebut. Selama kunjungan kerja tersebut, TPID dari kedua provinsi melakukan studi lapangan di BUMP PT Lumpang Semar Sejahtera yang berlokasi di Kelurahan Purwosari, Mijen, Kota Semarang. Mereka mempelajari metode yang digunakan dalam memotong rantai distribusi serta upaya menjaga kestabilan harga melalui sistem etalase harga yang diterapkan di Kios Pandawa Kita, yang terletak di Komplek Pasar Kanjengan, Johar. Hevearita, yang akrab disapa Ita, mengungkapkan bahwa dirinya tidak menyangka keberhasilan Kota Semarang dalam pengendalian inflasi dapat menarik perhatian TPID dari daerah lain untuk belajar dari pengalaman tersebut. Bagi Ita, keberhasilan dalam pengendalian inflasi pangan di Kota Semarang tidak lepas dari komitmen bersama seluruh lapisan masyarakat. "Lumpang Semar Sejahtera ini adalah contoh nyata komitmen bersama, di mana kami terus berupaya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan akses pangan yang terjangkau bagi masyarakat," jelasnya. Ita menjelaskan bahwa inisiatif pembentukan BUMP bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen dengan menawarkan harga yang lebih terjangkau. Prinsip dasar dari BUMP adalah penguatan ekonomi masyarakat, terutama petani, dengan tujuan mengendalikan laju inflasi melalui pemangkasan rantai distribusi. "BUMP merupakan organisasi usaha masyarakat yang menampung hasil pertanian dan komoditas pangan di Kota Semarang untuk kemudian mendistribusikannya. Dengan demikian, distribusi pangan dapat lebih terpantau dan terkendali," tambahnya. Di sisi lain, Direktur Utama BUMP PT Lumpang Semar Sejahtera, Yunus Marzuqi, menyampaikan bahwa kunci keberhasilan Kota Semarang dalam mengendalikan inflasi pangan terletak pada sinergi antara berbagai pemangku kepentingan yang terlibat. "Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan entitas terkait lainnya adalah kekuatan utama dalam menjaga kestabilan harga pangan," ujarnya. Melihat pentingnya peran BUMP, Yunus menyatakan bahwa pihaknya siap untuk berkoordinasi dengan Sekretariat Nasional Badan Usaha Milik Petani Indonesia (Seknas BUMP-Indonesia) jika Provinsi Papua Barat berminat untuk membentuk BUMP yang serupa. Ia menegaskan bahwa BUMP LSS yang didirikan oleh Pemerintah Kota Semarang bukan hanya berfokus pada penekanan harga pangan agar tetap terjangkau, tetapi juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani dengan memangkas rantai distribusi yang panjang. Sebagai bukti keberhasilan dalam pengendalian inflasi, Kota Semarang selama dua bulan berturut-turut telah mencatatkan angka deflasi. Pada bulan Mei 2024, kota ini mengalami deflasi sebesar 0,21 persen, dan pada bulan Juni, Kota Semarang mencatatkan deflasi mencapai 0,26 persen. Ini menunjukkan bahwa inisiatif yang dilakukan melalui BUMP PT Lumpang Semar Sejahtera telah memberikan dampak positif dalam menjaga stabilitas ekonomi di daerah tersebut. ANTARA