JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta – Kementerian Kesehatan Indonesia telah mempercepat pelaksanaan uji skrining kanker serviks bagi wanita berusia 30–69 tahun di 26 kabupaten/kota yang tersebar di 15 provinsi pada tahun ini. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk memberantas penyakit kanker serviks sebelum tahun 2030. Yudhi Pramono, direktur jenderal pengendalian dan pencegahan penyakit yang saat ini menjabat, menyatakan bahwa pada tahun 2023, kementerian melaksanakan uji skrining HPV DNA kanker serviks di lima lokasi di Jakarta. “Insya Allah, kedepannya kami akan mempercepat pelaksanaan ini secara nasional, sesuai dengan program yang akan dijalankan oleh pemerintah baru,” ungkap Pramono. Ia menjelaskan bahwa skrining merupakan salah satu dari tiga upaya yang dilakukan kementerian untuk mencegah dan mengendalikan kanker serviks. Kementerian menargetkan cakupan skrining sebesar 75 persen di antara kelompok sasaran. Dua upaya lainnya yang dicanangkan oleh kementerian meliputi peningkatan cakupan vaksinasi HPV hingga 90 persen pada anak laki-laki dan perempuan berusia 15 tahun, serta memastikan bahwa 90 persen wanita yang menderita lesi pra-kanker serviks dan kanker mendapatkan perawatan yang sesuai dengan standar. Menurut Pramono, kementerian telah merumuskan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kanker Serviks 2023–2030 sebagai suatu langkah komprehensif untuk memberantas penyakit ini, sekaligus memberdayakan perempuan dan membangun ketahanan kesehatan. Ia menyoroti bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker dengan insiden tertinggi kedua di kalangan perempuan Indonesia, dengan dilaporkan terdapat 36 ribu kasus dan 20 ribu kematian pada tahun 2022. Data menunjukkan bahwa setidaknya 70 persen pasien terdiagnosis ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut. Merujuk pada data tahun 2023 dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), Pramono mencatat bahwa total biaya pengobatan kanker mencapai triliunan rupiah (USD 1 = Rp 15.000). Hal ini menegaskan perlunya upaya yang lebih baik dalam pencegahan dan pengendalian penyakit yang bersifat katastropik seperti kanker. Lebih jauh, Pramono menekankan bahwa pihaknya telah secara konsisten mempromosikan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian terhadap kanker serviks di forum World Health Assembly. Pendekatan yang diambil mencakup integrasi program imunisasi, kesehatan sistem reproduksi, serta kemitraan inklusif dengan sektor non-kesehatan. Dukungan dan kemitraan dari berbagai kementerian, lembaga, dan pihak terkait sangatlah penting dalam mempromosikan tiga inisiatif ini demi mencapai penghapusan kanker serviks secara menyeluruh. ANTARA