BENGKULU –
**Borneonews**, Bengkulu - Program pengabdian masyarakat yang berbentuk kuliah kerja nyata (KKN) kolaborasi antara Universitas Bengkulu dan Universitas Gajah Mada bertujuan untuk meningkatkan potensi agrowisata di pulau terluar Indonesia yang terletak di Bengkulu, yaitu Pulau Enggano. Wakil Ketua Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Universitas Bengkulu, Mohammad Nur Dita Nugroho, menjelaskan bahwa inisiatif ini melibatkan beberapa aspek penting, termasuk peningkatan potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta fokus pada bidang pertanian, perkebunan, dan agrowisata. Untuk merealisasikan upaya peningkatan dalam bidang agrowisata, kegiatan dimulai dengan penanaman bibit padi varietas *Gamagora 7*. Varietas padi ini merupakan hasil penelitian dari Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gajah Mada. Nama *Gamagora* sendiri merupakan singkatan dari istilah *gama gogo rancah*, yang awalnya diteliti oleh empat peneliti, tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah peneliti yang terlibat bertambah menjadi sepuluh. Dalam surat resmi yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, dinyatakan bahwa padi *Gamagora 7* memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan hama wereng batang cokelat biotipe 2. Varietas ini juga menunjukkan keunggulan lain, termasuk ketahanan terhadap beberapa penyakit, seperti hawar daun bakteri patotipe III, penyakit blast dengan ras 033, ras 073, dan ras 133. Selain itu, *Gamagora 7* cocok untuk ditanam di lahan sawah maupun pada lahan tadah hujan. Penanaman padi secara simbolis berlangsung pada tanggal 13 Agustus 2024 dan dihadiri oleh sejumlah pihak, termasuk unsur Pemerintah Provinsi Bengkulu, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, KAGAMA, Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), camat setempat, unsur Tripeka, serta pemerintahan desa dan mahasiswa yang terlibat dalam program KKN kolaborasi ini. Selain penanaman padi *Gamagora 7*, kegiatan KKN kolaborasi juga mencakup penanaman tanaman buah-buahan, seperti alpukat dan durian, di Kebun Buah di Desa Banjarsari. Dengan total lahan yang lebih kurang seluas 25-50 hektar, desa ini diproyeksikan akan menjadi lokasi agrowisata yang menjanjikan. "Kami melakukan inovasi di sektor pertanian dan agrowisata, berupa penanaman bibit padi *Gamagora 7* serta bibit buah-buahan di lokasi yang direncanakan sebagai pusat agrowisata di Pulau Enggano. Inovasi ini diharapkan dapat membawa harapan baru bagi ketahanan pangan serta pengembangan ekonomi di pulau terluar Indonesia ini," kata Mohammad Nur Dita Nugroho. Dengan fokus pada pengembangan sektor pertanian dan agrowisata, program ini memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. ANTARA