**Borneonews**, Palembang - Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera baru-baru ini mengungkapkan bahwa seluas 750,83 hektare lahan telah terbakar di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) selama periode Januari hingga Juli 2024. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Kepala BPPIKHL Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, data ini mencerminkan rincian yang lebih mendalam mengenai kondisi lahan yang terdampak.
Dari total lahan yang terbakar tersebut, 308,56 hektare merupakan lahan gambut, sedangkan 442,26 hektare adalah lahan mineral. Penjelasan lebih lanjut menunjukkan bahwa untuk lahan gambut yang terbakar, wilayah Kabupaten Musi Banyuasin merupakan yang paling terdampak dengan luas 192,52 hektare. Diikuti oleh Ogan Komering Ilir (OKI) yang tercatat sebanyak 106,36 hektare, dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) seluas 9,68 hektare.
Sementara itu, lahan mineral yang terbakar tersebar di beberapa kabupaten, di mana Kabupaten Musi Banyuasin mencatat luas terbakar sebesar 62,88 hektare. OKI menyumbang 17,89 hektare, dan Musi Rawas Utara melaporkan 91,81 hektare terbakar. Selain itu, Kabupaten PALI mencatat 59,20 hektare, Banyuasin 48 hektare, Ogan Ilir 46,52 hektare, Muara Enim 36,10 hektare, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur 32,99 hektare. Luas lahan yang terbakar juga meliputi OKU sebanyak 21,84 hektare, Musi Rawas 16,64 hektare, Kota Prabumulih 7,81 hektare, serta Kota Palembang yang tercatat mengalami kebakaran sejumlah 0,60 hektare.
Ferdian Krisnanto mengkonfirmasi bahwa luas lahan yang terbakar pada tahun 2024 menunjukkan penurunan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2023, yang dilaporkan seluas 1.496 hektare. Hal ini menandakan adanya pengelolaan yang lebih baik dalam upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Saat ini, Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Kahutla) sedang melaksanakan pemadaman di Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI, dengan dukungan dari dua helikopter pembom air dan satu alat berat ekskavator. Alat berat ini memiliki fungsi krusial, yaitu mengeruk kanal untuk meningkatkan volume air serta membantu penyekatan area yang terbakar agar tidak meluas.
Meskipun telah dilakukan upaya yang maksimal, Ferdian menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi oleh tim pemadam, antara lain perubahan arah angin yang mempersulit upaya pemadaman. Tim pemadam saat ini tetap berfokus pada keamanan personel sambil terus berupaya untuk memadamkan titik api untuk mencegah kebakaran lebih lanjut.
Upaya ini menjadi penting mengingat dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berpengaruh pada kesehatan lingkungan, tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Bagi BPPIKHL dan pihak terkait lainnya, penanganan kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi prioritas demi menjaga kelestarian ekosistem serta mencegah kerugian yang lebih besar.
ANTARA
Lahan Terbakar di Sumatera Selatan Capai 750,83 Hektare di 2024
Bagikan:

PALEMBANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
SMAN 3 Kasongan Terima Dua Interactive Panel Display dan Starlink
Kholidin/Noviera Raih Perak para Panahan Asian Para Games 2026
Petani Tradisional Dituding Sebabkan Karhutla, Akademisi Ilmu Pertanian Angkat Suara
Puluhan Sekolah di Palangka Raya Masih Dipimpin Plt, Pengisian Definitif Ikuti Aturan
Kapolres Gumas Tanam 50 Bibit Pucuk Merah di Lahan Bekas Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







