JAKARTA –
**Borneonews, Jakarta** - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan keyakinannya bahwa kereta otonom atau *Autonomous Rail Transit* (ART) akan dapat beroperasi secara maksimal sebagai sistem transportasi massal yang ramah lingkungan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam keterangannya, Menhub Budi Karya menegaskan, “Kami optimistis trem otonom dapat beroperasi dengan baik di IKN dan menjadi percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia dalam menerapkan transportasi massal modern yang cerdas dan ramah lingkungan.” Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta beberapa menteri dari Kabinet Indonesia Maju melakukan peninjauan terhadap trem otonom di IKN. Budi Karya menginformasikan bahwa saat ini ada satu rangkaian trem otonom yang akan berfungsi sebagai kendaraan pengumpan (feeder) bagi peserta upacara Hari Kemerdekaan RI. Trem ini direncanakan beroperasi dengan kecepatan jelajah 40 km/jam di dua jalur, yaitu Jalan Sumbu Kebangsaan Barat dan Jalan Sumbu Kebangsaan Timur. “Waktu tempuh untuk satu putaran adalah 5 menit, dengan waktu tunggu di tiap halte sekitar 30 detik. Terdapat 4 halte yang akan menjadi titik pemberhentian trem otonom, yakni Halte Kemenko 1, Kemenko 2, Kemenko 3, serta Kemenko 4,” jelas Menhub. Lebih jauh, Menhub menjelaskan bahwa trem otonom ini akan beroperasi menggunakan tenaga listrik yang bersumber dari baterai. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta penggunaan energi, sejalan dengan konsep dan prinsip IKN sebagai kawasan yang cerdas, hijau, dan berkelanjutan. “Trem otonom akan melakukan pengisian daya (charging) setelah mobilisasi tamu pada pagi hari dan sebelum mobilisasi tamu pada sore hari. Posisi trem otonom saat pengisian daya akan ditempatkan sedemikian rupa agar tidak mengganggu pergerakan dan lingkungan sekitar, serta tidak menghasilkan suara atau kebisingan,” tambahnya. Untuk memastikan kelayakan operasi dari trem otonom, akan dilakukan Fase Pengujian atau Fase Operasi Trem Otonom (POC) selama 60 hari, terhitung sejak 10 Agustus hingga 9 Oktober 2024. Setelah fase uji, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) akan melakukan evaluasi. Tidak hanya itu, pada periode 10 Oktober hingga 31 Desember 2024, trem otonom ini akan dipamerkan untuk masyarakat umum, di mana masyarakat bisa menikmati pengalaman menggunakan trem otonom secara gratis. Presiden Joko Widodo berharap bahwa transportasi massal berbasis listrik ini dapat diterapkan tidak hanya di IKN, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. “Tadi sudah saya coba. Agar trem otonom ini beroperasi dengan baik, jalan yang dilalui perlu lebar, dan kebetulan jalan di IKN sudah dirancang lebar, sehingga memenuhi syarat. Saya rasa semua kota di Indonesia, termasuk Surabaya, Makassar, Medan, dan Bandung, sangat membutuhkan transportasi massal berbasis energi hijau semacam ini,” ujarnya. Keuntungan dari trem otonom adalah biaya operasional yang lebih terjangkau. Menurut Presiden, pengoperasian trem otonom tidak memerlukan rel khusus, melainkan dapat menggunakan jalan yang sudah ada, sehingga tidak memerlukan pembangunan infrastruktur baru. “Satu unit rangkaian trem otonom diperkirakan harganya sekitar Rp70-an miliar. Jika kita ingin membangun MRT, biayanya per kilometer mencapai Rp2,3 triliun, sedangkan untuk pembangunan LRT sekitar Rp700 miliar per kilometer. Hal ini menjadi pertimbangan penting, meskipun sebagian besar kota di Indonesia masih menghadapi tantangan dengan lebar jalan yang terbatas,” pungkasnya. ANTARA