SURABAYA –
**Borneonews**, Surabaya - Dinas Kesehatan Kota Surabaya telah melaksanakan sejumlah langkah strategis untuk mencegah terjadinya Gagal Ginjal Kronis (GGK) pada anak-anak. Upaya ini melibatkan edukasi kepada orang tua serta kerja sama dengan Kader Surabaya Hebat (KSH) untuk memantau individu yang berisiko terkena penyakit ini. Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa pihaknya selalu melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap setiap laporan kasus gagal ginjal yang diterima baik dari masyarakat maupun fasilitas layanan kesehatan. “Penting bagi kami untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit gagal ginjal, terutama melalui pengamatan dan deteksi dini yang dilakukan dalam kegiatan Bindu PTM di berbagai lapisan masyarakat, seperti di sekolah-sekolah, poskestren, dan dalam program Bindu Jirona yang mencakup aspek kesehatan jiwa, penggunaan rokok, dan NAPZA,” ungkap Nanik. Melalui keterlibatan Kader Surabaya Hebat, pemantauan kondisi kesehatan keluarga di seluruh wilayah Kota Pahlawan dapat dilakukan dengan lebih menyeluruh. Hal ini memungkinkan deteksi kasus gagal ginjal yang lebih cepat sebelum kondisi pasien semakin memburuk. Nanik juga mengingatkan masyarakat untuk mematuhi anjuran dokter terkait penggunaan obat dan menghindari penggunaan obat nyeri tanpa pengawasan yang tepat, sebab hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan. Gejala yang patut diwaspadai antara lain adalah demam, infeksi saluran pernapasan akut seperti batuk dan pilek, serta gejala infeksi saluran cerna seperti diare dan muntah. Selain itu, masyarakat disarankan untuk memperhatikan produksi urine anak. Jika terjadi pengurangan atau bahkan tidak ada urine selama 6 hingga 8 jam pada siang hari, serta perubahan warna urine menjadi pekat atau kecoklatan, segera lakukan rujukan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FLTL) atau rumah sakit terdekat. Nanik menyampaikan bahwa, hingga saat ini, kasus GGK pada anak di Surabaya hanya terdata satu kasus, yang telah menjalani perawatan hemodialisa. Sementara itu, kasus GGK yang teridentifikasi di wilayah ini sebagian besar terjadi pada individu berusia dewasa. Berdasarkan data diagnosis ICD X di Fasilitas Kesehatan Kota Surabaya sampai dengan bulan Juni 2024, terdapat 308 kasus GGK, tetapi kasus GGK pada kelompok usia di bawah 17 tahun tetap terbilang jarang, dengan hanya satu kasus yang dirawat. Dalam penanganan GGK pada anak, strategi yang diambil mengacu pada tatalaksana medis yang sesuai dan melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan seperti RSUD Dr. Soetomo, RSUD Dr. Moh. Soewandhie, dan RS Al-Irsyad. Nanik menambahkan bahwa sejumlah faktor turut mempengaruhi terjadinya penyakit GGK, di antaranya riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, kelainan ginjal bawaan, infeksi ginjal, dan sindrom nefrotik. Kondisi ini semakin dipicu oleh adanya dehidrasi berat, obesitas, hipertensi, diabetes melitus, serta pola makan yang tidak sehat. “Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji, minuman manis dalam kemasan, dan makanan tinggi kalori dalam jangka waktu panjang berisiko lebih tinggi untuk mengalami GGK, yang menjadi perhatian serius bagi kita semua,” jelas Nanik. Dengan demikian, kesadaran masyarakat akan pentingnya pengawasan kesehatan sendiri dan keluarga menjadi kunci dalam pencegahan GGK pada anak. ANTARA