JAKARTA –
**Borneonews, Moskow** - Iran telah menyatakan akan memberikan respons yang terukur terhadap pembunuhan Ismail Haniyeh, kepala politik Hamas, yang dilakukan oleh Israel. Penasihat kampanye media dari Presiden terpilih Masoud Pezeshkian, Aliasghar Shafieian, menyatakan kepada *The Washington Post* bahwa cara Iran dalam menanggapi insiden ini akan sangat berbeda dibandingkan dengan tindakan masa lalu yang cenderung lebih emosional. "Mungkin 40 tahun yang lalu, beberapa tindakan Iran dilakukan dengan penuh semangat dan emosional," ungkapnya. Shafieian menekankan bahwa respons yang akan diambil oleh Teheran kali ini akan bersifat "matang" dan tidak diharapkan seperti serangan berlarut-larut yang terjadi pada bulan April. Ia menggambarkan pembunuhan Haniyeh sebagai sebuah "misi berbasis intelijen" dan menegaskan bahwa respons Iran juga akan mencerminkan karakteristik yang sama dalam tingkat yang sebanding. Menurut sebuah sumber dari parlemen Irak yang memiliki hubungan dekat dengan milisi yang didukung oleh Iran, negara tersebut berkomitmen untuk menjaga respons mereka terbatas guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. "Kami diberitahu (oleh Iran) bahwa responsnya akan terbatas," katanya, menambahkan bahwa Teheran "tidak ingin memperluas perang." Di sisi lain, seorang warga Lebanon yang terhubung dengan gerakan Hizbullah melaporkan bahwa Iran memiliki kekhawatiran terkait kemungkinan serangan dari Israel dan Amerika Serikat terhadap program nuklirnya, yang dikhawatirkan akan menciptakan situasi di mana "pencegahan nuklir Iran" menjadi tidak efektif. Pada 31 Juli, Hamas mengkonfirmasi bahwa serangan oleh Israel telah mengakibatkan kematian Haniyeh di kediamannya di Teheran, di mana ia sedang berada untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran. Hamas sendiri menuduh Israel dan AS bertanggung jawab atas kematian Haniyeh, menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan. ANTARA