JAKARTA –
**Borneonews**, Washington - Penyerbuan terhadap kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur oleh ratusan warga Israel radikal dinyatakan sebagai tindakan yang "tidak dapat diterima" oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada hari Selasa oleh Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Vedant Patel, dalam sebuah konferensi pers. Dalam penjelasannya, Patel menegaskan dukungan yang kuat dari Amerika Serikat terhadap pelestarian status quo historis yang mengatur situs-situs suci di Yerusalem. Dia menyatakan, "Biarkan saya mengatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat dengan tegas mendukung pelestarian status quo historis terkait situs-situs suci di Yerusalem." Dia dengan tegas menambahkan bahwa tindakan sepihak yang membahayakan status quo tersebut adalah "tidak dapat diterima". Pernyataan tersebut diungkapkan setelah sejumlah pemukim ilegal Israel dan beberapa pejabat pemerintah, termasuk Menteri Keamanan Nasional dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, serta menteri dari partai Otzma Yehudit, Yitzhak Wasserlauf, dan anggota Knesset dari Partai Likud, Amit Halevi, melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al Aqsa. Peristiwa ini dilakukan untuk memperingati Tisha B'Av, yang merupakan hari puasa tahunan dalam tradisi Yahudi yang menandai beberapa bencana penting dalam sejarah mereka. Patel juga menyatakan keprihatinan bahwa tindakan tersebut tidak hanya dianggap tidak dapat diterima, namun juga mengalihkan perhatian dari usaha penting yang sedang dilakukan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Dia menambahkan, "(Tindakan) Itu mengalihkan perhatian dari tujuan yang telah kami nyatakan untuk wilayah tersebut, yaitu solusi dua negara, negara Palestina dan negara Israel yang berdampingan, hidup dengan martabat dan harmoni." Pernyataan ini menunjukkan posisi tegas Amerika Serikat terhadap situasi yang berkembang di wilayah tersebut, serta harapan untuk menciptakan solusi damai yang akan membawa stabilitas dan keterbukaan bagi semua pihak yang terlibat. ANTARA