**Borneonews** - Manajemen PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah menjalankan inisiatif untuk menciptakan keharmonisan antara petani dan gajah di Kabupaten Bengkalis, Riau, melalui program agroforestri. Program ini ditujukan untuk masyarakat Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir. Dengan mengimplementasikan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PHR berfokus pada pengembangan sistem tanaman di lahan-lahan yang seringkali mengalami konflik dengan keberadaan gajah, terutama di sekitar kantong Gajah Balairaja.
Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa masyarakat yang lahannya berdekatan dengan habitat dan jalur perlintasan gajah dilibatkan dalam program ini. Mereka didorong untuk menanam berbagai jenis tanaman yang tidak menarik perhatian gajah namun memiliki nilai ekonomi tinggi. Jenis-jenis tanaman tersebut meliputi durian, matoa, kopi, alpukat, dan aren. Penanaman tanaman dengan karakteristik tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi konflik antara manusia dan gajah.
Inisiatif agroforestri ini memiliki manfaat yang beragam, mencakup dukungan terhadap pengurangan jejak karbon melalui penanaman pohon, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Dengan adanya program ini, ruang-ruang yang rawan konflik diharapkan akan menyusut. PHR bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Rimba Satwa Foundation (RSF) untuk melindungi dan melestarikan gajah bersama habitatnya, sesuai dengan tujuan konservasi.
Rudi juga menyoroti peran penting gajah bagi ekosistem dan keseimbangan alam. Selain program agroforestri, strategi lain untuk menjaga populasi gajah meliputi pemanfaatan teknologi. Salah satunya adalah pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah, serta penguatan sinergi dengan masyarakat dalam hal edukasi dan pengembangan habitat serta koridor bagi gajah.
Salah satu anggota masyarakat, Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, Suparto, berbagi pengalamannya. Ia adalah pemilik lahan dan perkebunan yang berbatasan langsung dengan kantong Gajah Balairaja. Selama periode 1995-2020, Suparto tidak lagi menggunakan petasan untuk mengusir gajah yang mendekati pemukiman. Berkat inisiatif dari Rimba Satwa Foundation (RSF), yang fokus pada penciptaan kehidupan harmonis antara manusia dan alam, Suparto dan warga lainnya telah mendapat edukasi tentang solusi jangka panjang dalam menghadapi permasalahan gajah.
Melalui pembentukan KTH Alam Pusaka Jaya, mereka memulai penanaman tanaman yang tidak disukai oleh gajah dan juga merehabilitasi habitat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membudidayakan Rumput Odot (Pennisetum purpureum), yang ditanam di pekarangan warga. Begitu rumput tersebut tumbuh cukup besar, mereka akan menanamnya kembali di koridor jalur gajah, tepi sungai, atau batas kebun masyarakat. Langkah ini bertujuan agar gajah tetap berada di jalurnya dan memiliki akses terhadap sumber makanan yang diperlukan.
Inisiatif PHR ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga menjadi langkah positif untuk mendukung perekonomian masyarakat, menghadirkan solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan konflik antara manusia dan satwa liar.
ANTARA
Harmonisasi Kehidupan Petani dan Gajah di Bengkalis Riau
Bagikan:

PEKANBARU –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







