SAMARINDA –
**Borneonews, Samarinda** - Ketua Dewan Bahasa dan Sastra Kutai, Kalimantan Timur (Kaltim), Awang Muhammad Rifani, menyatakan bahwa perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia di Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan sebuah kesempatan emas untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Kutai kepada masyarakat luas. Menurutnya, momen ini sangat berharga dan IKN merupakan milik semua orang; oleh karena itu, ini adalah kesempatan yang tepat untuk menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Kutai. Awang menyoroti bahwa kehadiran tamu dari berbagai daerah di Indonesia ke IKN memberikan peluang besar untuk memperkenalkan kulturnya. Dia berharap tamu-tamu yang hadir dapat mengenal dan memahami bahasa Kutai, yang merupakan bahasa yang familiar bagi masyarakat Kalimantan Timur. Keinginan ini untuk memperkenalkan bahasa Kutai kepada masyarakat lebih luas sebanding dengan pengenalan bahasa Betawi di DKI Jakarta. Lebih jauh, Awang menekankan pentingnya peran Dewan Bahasa dan Sastra Kutai dalam membumikan bahasa Kutai. Pihaknya berkomitmen untuk berupaya keras dalam memperkenalkan bahasa Kutai melalui berbagai kegiatan. Harapannya agar kearifan lokal dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di IKN. Awang juga mengajak para tamu yang datang ke IKN untuk mengenal kekayaan budaya Kutai secara langsung. Salah satu contohnya, para tamu dapat mengunjungi Kedaton maupun Museum Mulawarman yang terletak di Tenggarong, sehingga mereka dapat melihat dan merasakan langsung bagaimana kekayaan budaya Kutai di Kalimantan Timur. Lebih lanjut, Awang menjelaskan bahwa wilayah IKN sebenarnya merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Kutai. Dia menegaskan bahwa sejarah Kutai sangat kaya, dan penting bagi masyarakat luas untuk mengenal serta menghargai sejarah tersebut. Ia pun menambahkan bahwa Penajam dan Balikpapan dulunya adalah bagian dari Kesultanan Kutai, yang merupakan bagian penting dari identitas Kutai. Awang menegaskan pula bahwa pelestarian bahasa dan budaya Kutai adalah bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya bangsa. Dia percaya bahwa keberadaan IKN dapat melahirkan persatuan dalam keberagaman. Ini menjadi momentum bagi generasi muda Kaltim untuk menjunjung tinggi bahasa Kutai sebagai bahasa ibu mereka, serta bagian dari usaha untuk menjaga kejayaan dan kekayaan budaya Kutai. ANTARA