JAKARTA –
**Borneonews, Jakarta** - Dalam rangka memperingati HUT Ke-79 Republik Indonesia (RI), dua detasemen baru dari Pusat Zeni TNI Angkatan Darat, yaitu Detasemen Zeni Penjinakan Bahan Peledak dan Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia, dikerahkan untuk melakukan pengamanan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah ini menunjukkan komitmen TNI AD dalam menjaga keamanan pada momen penting bagi bangsa. Mayjen TNI Budi Hariswanto, selaku Kepala Pusat Zeni TNI Angkatan Darat, menjelaskan bahwa kedua detasemen tersebut, sejak mereka masih berstatus kompi, selalu dilibatkan dalam semua kegiatan pengamanan yang melibatkan tamu-tamu penting atau VVIP. “Untuk pelibatan kemampuan Zeni dalam bidang nubika (nuklir, biologi, dan kimia) dan jihandak (penjinakan bahan peledak) selalu dalam kegiatan VVIP, pasti dilibatkan,” ungkap Mayjen Budi saat jumpa pers setelah upacara peresmian detasemen tersebut. Acara peresmian Detasemen Zeni Penjinakan Bahan Peledak dan Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia berlangsung dengan demonstrasi penanganan ancaman kimia dan biologi, serta bahan peledak. Dalam skenario yang disimulasikan, seorang tamu asing diceritakan membawa tas dengan isi mencurigakan. Prajurit dari Korps Zeni TNI AD yang bertugas saat itu segera mengamankan potensi bahaya tersebut. Kecepatan respon terlihat ketika sejumlah prajurit dari Detasemen Zeni Nubika hadir di lokasi dengan mengenakan baju pelindung khusus. Mereka melaksanakan prosedur penanganan terhadap bahan-bahan kimia yang berbahaya dengan tepat dan sigap. Hal ini menunjukkan profesionalisme dan kesiapan tinggi dari prajurit dalam menghadapi situasi darurat. Dalam acara tersebut, berbagai perlengkapan untuk deteksi dan dekontaminasi dipamerkan. Di antaranya terdapat alat deteksi Metrad buatan Amerika Serikat yang mampu mendeteksi logam dan radiasi, serta alat deteksi Chemrpo 100 dari AS yang dapat mendeteksi zat-zat kimia beracun, termasuk yang tergolong sebagai *chemical warfare agent*. Selain itu, terdapat alat dekontaminasi seperti DS 10 dan DS 6 yang merupakan produk buatan Jerman. Alat deteksi lainnya yang diunjukkan adalah Rados dari Finlandia, yang berfungsi mendeteksi radiasi dan mengukur dosisnya, serta FLIR Identifinder dari AS yang digunakan untuk memetakan dan mengidentifikasi berbagai jenis radiasi. Juga diperkenalkan alat dekontaminasi yang mirip dengan alat fogging yang dikenal sebagai Decofog, yang juga merupakan produk buatan Jerman. Dari Detasemen Zeni Penjinakan Bahan Peledak, sejumlah peralatan canggih ditampilkan. Di antaranya adalah alat deteksi ranjau buatan Jerman, alat X-Ray *portable* dari AS, serta alat evaluasi *hook and line* set yang juga berasal dari Jerman. Di samping itu, terdapat disruptor buatan Indonesia, yang dirancang untuk merusak sistem penyala atau aktivasi bom, serta mampu merusak *fuse* pada berbagai jenis bom. Perangkat lainnya yang menarik perhatian adalah Roket Wrench dan Exploder Wireless, yang dapat digunakan untuk meledakkan bom dari jarak yang aman, memastikan keselamatan petugas di lapangan. Semua alat dan perlengkapan tersebut mencerminkan kesiapan TNI AD dalam menghadapi ancaman, serta dedikasi mereka dalam menjaga kedaulatan dan keamanan negara. ANTARA