JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menanggapi isu yang menyebut dirinya melakukan intimidasi terhadap Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Dalam penjelasannya, Megawati menjelaskan bahwa intimidasi seharusnya diartikan sebagai tindakan mengancam secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, dia mengaku telah menyampaikan keinginannya untuk berbicara dengan Kapolri secara terbuka mengenai kondisi yang berkembang akhir-akhir ini. Megawati menginginkan klarifikasi terkait anggapan bahwa pernyataannya merupakan bentuk intimidasi. Dia menegaskan, "Kalau intimidasi, saya tidak ngomong di depan umum. Aku pikir, kenapa tidak boleh ketemu Kapolri? Kapolrinya mau tidak ketemu sama saya? Sampai hari ini tidak ada surat, 'Ibu Mega yang terhormat' ayo kita ngobrol." Pernyataan ini menunjukkan sikap terbuka Megawati terhadap dialog dan komunikasi. Sebagai warga negara Indonesia, Megawati merasa berhak untuk bertemu dengan Kapolri, mengingat dirinya adalah mantan presiden yang memisahkan institusi Polri dari TNI. "Saya warga negara Indonesia, saya yang memisahkan Polri (dengan TNI). Betul apa tidak? Zaman (saya menjadi) Presiden. Terus masa rakyat enggak boleh ketemu sama Kapolri?" ungkapnya. Dia lebih jauh menekankan peran penting yang dimiliki masyarakat dalam mengakses pemimpin kepolisian. Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga mengingatkan awak media untuk tidak memutarbalikkan apa yang disampaikannya karena ini berhubungan dengan perjuangan dan sejarah bangsa Indonesia. Dia meminta media dan publik untuk memahami konteks pernyataannya yang merupakan upaya untuk memperjuangkan transparansi dan akuntabilitas di tubuh kepolisian. Megawati mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Kapolri, menyatakan bahwa ia ingin menyampaikan laporan, data, dan fakta terkait isu intimidasi serta ketidaknetralan aparat. "Ibu Megawati Soekarnoputri minta ketemu yang namanya Kepala Polisi Republik Indonesia," katanya. Dengan penuh perhatian, dia menekankan pentingnya pertemuan ini untuk mengingatkan pemimpin kepolisian terkait tujuan reformasi yang telah dimulai selama ia menjabat sebagai presiden. Menyinggung isu intimidasi, Megawati merasa perlu untuk memberi perhatian kepada kondisi yang terjadi di masyarakat. Ia merasa terusik atas laporan-laporan yang diterimanya dan menilai bahwa masalah ini harus disampaikan langsung kepada Kapolri, "Masa diintimidasi hanya karena ada perintah dari atas. Atasnya mana? 'Yang pasti bu ada perintah dari atas'. Gila apa tidak?" jelas Megawati, menunjukkan keprihatinannya terhadap situasi yang merugikan warga. Dengan semangat untuk melanjutkan dialog, ia mengharapkan untuk diberikan kesempatan bertemu dengan Kapolri. "Ntar diundang apa tidak, tidak tahu. Ntar tahu-tahu perwakilan (Kapolri yang menemui). Lihat saja nanti," pungkasnya. Gagasan untuk mengakhiri intimidasi terhadap warga negara Indonesia adalah fokus utama dari keinginannya untuk melakukan pertemuan tersebut, dan ia berharap agar suara rakyat didengar serta dipertimbangkan oleh kepolisian. ANTARA