MATARAM –
**Borneonews, Mataram** - Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Mataram, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah melaksanakan uji coba terhadap limbah bekas pakan maggot, yang dikenal dengan istilah kasgot, untuk dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP). Inisiatif ini bertujuan untuk menyediakan alternatif bahan bakar pembangkit listrik yang dapat menggantikan penggunaan batu bara. Menurut penjelasan Kepala Bidang (Kabid) Persampahan DLH Kota Mataram, Vidi Partisan Yuris Gamanjaya, kegiatan uji coba ini telah dilakukan di PLTU Jeranjang, yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Uji coba ini merupakan hasil kerja sama antara DLH Kota Mataram dan pihak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat, di mana TPA tersebut telah menjalin kontrak kerja sama dengan PLTU Jeranjang. Vidi menjelaskan bahwa limbah kasgot merupakan bekas pakan maggot organik yang telah melalui proses pencacahan, pengeringan, dan pengayakan. Hasil dari proses pengayakan ini dibedakan menjadi dua jenis. Pupuk halus dihasilkan dari bagian yang bisa diayak, sementara sisa dari pengayakan yang berbentuk kasar, dengan ukuran satu ruas jari, akan dikeringkan kembali hingga menjadi BBJP. Semakin kering bahan baku tersebut, semakin tinggi pula harga BBJP yang dihasilkan, dengan kisaran harga antara Rp200.000 hingga Rp400.000 per ton. Vidi menyampaikan bahwa meskipun sisa ayakan tersebut sebenarnya dapat diolah menjadi kompos, peminatnya cenderung sedikit sehingga DLH lebih memilih untuk memproduksi BBJP dari kasgot. Mereka berusaha untuk memenuhi spesifikasi tingkat kekeringan kalori yang dibutuhkan oleh PLTU Jeranjang. Apabila hasil uji coba ini mendapatkan penerimaan baik dari pihak PLTU Jeranjang, Vidi optimis bahwa kasgot akan dioptimalkan lebih lanjut sebagai BBJP untuk kebutuhan energi tersebut. Lebih jauh, Vidi mengungkapkan bahwa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern Sandubaya saat ini mampu mengolah sekitar 40 hingga 46 ton sampah per hari yang berasal dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sandubaya dan Cakranegara. Dari total jumlah sampah yang diolah, sebanyak 18 ton merupakan sampah organik, sedangkan sisanya, yaitu 28 ton, terdiri dari sampah plastik, yang mencapai sekitar 61 persen dari total sampah setiap harinya. Dari hasil uji coba tersebut, Vidi menambahkan bahwa sebanyak 18 ton sampah organik yang diolah menghasilkan bubur pakan maggot. Sisa dari pengolahan kasgot yang kering dapat digunakan sebagai pupuk halus dan menghasilkan BBJP sekitar 2 ton per hari. Ia menilai prospek BBJP lebih besar dibandingkan penggunaan pupuk halus, terutama karena nilai ekonomis dari BBJP lebih tinggi. Data dari DLH Kota Mataram menunjukkan bahwa secara keseluruhan, volume sampah di Kota Mataram yang tercatat di enam kecamatan saat ini berada pada angka 240 ton per hari. Dari total tersebut, 60 persen merupakan sampah organik, 30 persen adalah sampah plastik, dan sisanya terdiri dari limbah kayu, diapers, kaca, dan jenis limbah lainnya. ANTARA