JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kerja sama yang telah terjalin antara PBNU dan pemerintah selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuannya dengan Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Yahya menegaskan harapannya agar meskipun masa jabatan Presiden Jokowi akan segera berakhir, hubungan kerja sama yang telah dibangun tetap dapat dilanjutkan. Menurut Yahya, selama ini, kerja sama antara NU dan pemerintah telah berjalan dengan sangat baik, dan banyak bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi. Ia menekankan, "Kami berharap kerja sama ini tetap berlanjut." Lebih lanjut, Yahya membahas rencana pengembangan Dana Abadi Pesantren yang bertujuan untuk menyediakan dukungan finansial bagi pesantren, dengan konsep yang mirip dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Kami di NU sedang mengembangkan desain untuk yang meniru BOS, tapi untuk pesantren. Jadi kami sedang selesaikan desainnya, kami berharap nanti bisa disambungkan dan dicarikan peluang untuk kerja sama," ungkapnya. Kaitan dengan bantuan konkret yang diberikan Presiden Jokowi, Yahya menyoroti beberapa dukungan terbaru, termasuk bantuan untuk pengembangan Universitas NU Yogyakarta serta bantuan dari Presiden Muhammad bin Zayed dari Uni Emirat Arab. "Itu semua adalah bantuan pribadi Pak Jokowi," jelasnya menambahkan. Dalam pertemuan ini, Yahya Staquf hadir didampingi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar. Kedatangan ketiga kiai tersebut berlangsung di tengah konflik antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan PBNU, di mana kedua pihak saling melapor dan terlibat adu mulut di ranah hukum. Mengenai situasi hubungan antara NU dan PKB, Yahya menjelaskan bahwa Presiden Jokowi sempat menanyakan tentang isu tersebut selama pertemuan singkat ini. "Kami menjelaskan situasinya, dan beliau memahami dengan baik," ujarnya. Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak adalah untuk membahas posisi dalam konflik dengan PKB, melainkan untuk memberikan klarifikasi dan mendiskusikan kerja sama yang bisa dilakukan di masa depan. Ketika ditanya mengenai solusi untuk permasalahan yang telah disinggung, Yahya menegaskan bahwa hal tersebut merupakan urusan internal PBNU dan akan ditangani oleh organisasi itu sendiri. Dengan penegasan ini, Yahya menunjukkan komitmennya untuk menjaga integritas dan kemandirian PBNU dalam menangani persoalan internal. ANTARA